Beberapa contoh di lapangan menunjukkan lonjakan signifikan. Plastik HD/PE naik dari Rp23.000 menjadi Rp52.000 per kilogram, sementara gelas plastik melonjak dari Rp280.000 menjadi Rp500.000 per dus.
Kenaikan juga terjadi pada plastik laundry yang naik dari Rp29.000 menjadi Rp55.000 per kilogram. Kondisi ini mulai berdampak pada pelaku usaha hingga konsumen sehari-hari.
Berdasarkan kajian dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, kenaikan harga ini dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Distribusi nafta sebagai bahan baku plastik terganggu, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Baca Juga: Liburan ke Jawa Timur Park 1, Ini Wahana yang Wajib Kamu Cobain
Dampaknya terasa langsung bagi UMKM yang bergantung pada kemasan plastik. Banyak pelaku usaha terpaksa menaikkan harga atau mencari alternatif bahan lain.
Namun di balik kondisi tersebut, muncul peluang perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Harga plastik yang mahal secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kebiasaan sederhana mulai terlihat, seperti membawa tumbler, tas belanja sendiri, hingga menggunakan wadah makan pribadi. Hal-hal kecil ini perlahan berubah menjadi kebutuhan.
Fenomena ini juga mulai terasa di kalangan anak muda. Kesadaran akan lingkungan semakin meningkat, terutama karena mereka melihat langsung dampak sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pendorong. Ketika harga plastik naik, masyarakat mulai berpikir ulang untuk terus menggunakannya secara berlebihan, terlebih banyak penjual yang sudah tidak menyediakan plastik di tokonya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu lahir dari kesadaran saja. Terkadang, kondisi ekonomi justru menjadi pemicu utama perubahan perilaku.
Jika terus berlanjut, kebiasaan ini berpotensi menjadi budaya positif baru. Dari yang awalnya terpaksa, perlahan bisa berubah menjadi kesadaran kolektif untuk hidup lebih berkelanjutan.
Editor : Aditya Novrian