Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

⁠Sering Overthinking Setelah Nonton Konten? Waspada Self-Diagnose di Media Sosial

Parahita Ade Kumala • Selasa, 28 April 2026 | 02:00 WIB
Ilustrasi konsultasi kesehatan mental (sumber foto; freepik)
Ilustrasi konsultasi kesehatan mental (sumber foto; freepik)
BATU, RADAR BATU – Media sosial kini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sumber informasi kesehatan mental yang mudah diakses siapa saja.  Kemudahan akses informasi ini  memunculkan fenomena self-diagnose di kalangan pengguna, terutama anak muda.

Fenomena ini banyak terjadi pada pengguna TikTok dan Instagram, yang kerap menyuguhan konten kesehatan mental setiap hari. Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini semakin terlihat seiring meningkatnya konten edukatif tentang kesehatan mental di media sosial.

Self-diagnose dalam konteks ini adalah kondisi ketika seseorang merasa memiliki gangguan mental hanya berdasarkan konten yang ditonton. Hal ini terjadi tanpa melalui pemeriksaan atau diagnosis dari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kota Batu 27 April 2026: Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah

Kemudahan akses informasi menjadi salah satu penyebab utama munculnya fenomena ini. Konten yang singkat, relatable, dan mudah dipahami membuat banyak orang merasa terwakili oleh penjelasan yang ada.

Namun, penyederhanaan informasi tersebut sering kali menghilangkan konteks penting dalam diagnosis kesehatan mental. Akibatnya, pengguna bisa menyalah pahami kondisi dirinya sendiri.

Banyak orang kemudian mulai overthinking setelah menonton konten tersebut. Mereka merasa memiliki gejala tertentu dan tanpa sadar memberi label pada diri sendiri.

Algoritma media sosial juga memperkuat fenomena ini dengan terus menampilkan konten serupa. Hal ini menciptakan efek berulang yang membuat pengguna semakin yakin dengan asumsi yang dibentuknya.

Padahal, kondisi kesehatan mental tidak bisa disimpulkan dari satu atau dua gejala saja. Diagnosis membutuhkan proses yang melibatkan observasi, wawancara, dan evaluasi secara menyeluruh.

Baca Juga: Dari Bioflok hingga Brilink, Ini Cara KDMP di Batu Bertahan di Tengah Keterbatasan

Meski begitu, konten kesehatan mental tetap memiliki manfaat sebagai langkah awal mengenali diri. Informasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran, asalkan disikapi dengan bijak.

Cara terbaik untuk menghindari dampak negatif self-diagnose adalah dengan bersikap kritis terhadap konten. Jika merasa mengalami gejala tertentu, sebaiknya langsung mencari bantuan profesional agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Editor : Aditya Novrian
#mental health #Gen Z #sosial media