Berbeda dengan generasi terdahulu yang cenderung menganggap topik ini tabu, Gen Z justru lebih terbuka dan peduli terhadap kondisi psikologis mereka. Fenomena ini tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh perubahan zaman yang mereka alami.
Baca Juga: Cetak SDM Unggul, Siswa SMKN 1 Batu Dilirik Industri Nasional Usai Berjaya di LKS Jatim
Berikut beberapa alasan mengapa Gen Z dinilai lebih peduli terhadap kesehatan mental:
Tumbuh di Era Keterbukaan Informasi
Gen Z lahir dan besar di masa ketika akses informasi sangat terbuka, seperti memiliki kemudahan untuk membaca atau menonton konten mengenai kesehatan mental. Hal ini membuat mereka memiliki literasi kesehatan mental yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, sehingga lebih mudah mengenali dan memahami kondisi psikologis.
Lebih Vokal dalam Menyuarakan Perasaan
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang dibesarkan dalam kultur yang diharuskan untuk menahan sesuatu dan tidak boleh mengeluh, Gen Z justru lebih berani mengekspresikan emosi, baik di media sosial ataupun secara langsung dalam forum. Bagi mereka menyuarakan perasaan bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan cara untuk bertahan hidup di tengah tekanan.
Mengalami Tekanan Sosial Kompleks
Gen Z hidup di tengah berbagai tekanan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga digital. Mereka juga mengalami langsung peristiwa besar seperti pandemi COVID-19, krisis iklim, serta paparan media sosial sejak usia muda, sehingga pengaruh itu membentuk identitas sosial mereka dalam menjalani hidup.
Baca Juga: 806 Botol Miras Ilegal Disita di Karaoke Songgokerto, Kota Batu
Overexposure Informasi
Paparan informasi yang tinggi dan masif dari media sosial, membuat isu kesehatan mental tidak lagi tabu bagi mereka. Justru, topik ini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, baik di media sosial maupun lingkungan pertemanan, sehingga mereka sangat dekat dengan isu ini.
Pergeseran Budaya
Terjadi perubahan besar dari budaya diam menjadi budaya bersuara. Jika dulu kesehatan mental sering disembunyikan karena banyak orang yang merasa malu ketika terkena masalah mental. Kini, Gen Z justru banyak yang mengadvokasi atau menyuarakan pentingnya menjaga kondisi mentalnya dengan membuat konten edukasi atau sharing pengalaman yang pernah dialami. Dengan begitu, orang yang melihatnya bisa menyadari bahwa kesehatan mental itu penting dan bukanlah sebuah aib.
Ekspresi Emosi yang Sehat
Dengan Gen Z mengekspresikan dan menyuarakan informasi atas kondisinya, membuat mereka tahu kondisi mentalnya. Penelitian berjudul The Utility of Coping Through Emotional Approach: A Meta-Analysis oleh Michael A Hoyt dan tim menunjukkan bahwa individu yang mampu mengekspresikan distress cenderung lebih cepat mencari bantuan dan memiliki prognosis yang lebih baik dibanding mereka yang memendam perasaan. Hal ini menunjukkan, kebiasaan Gen Z yang oversharing ternyata memiliki sisi positif, karena dapat membantu mengurangi beban emosi dan membuka peluang mendapat dukungan dari orang lain.
Meningkatnya kepedulian Gen Z terhadap kesehatan mental bukan berarti mereka lebih rapuh, melainkan lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Pergeseran kultur dari menahan menjadi menyuarakan menunjukkan adanya perubahan cara pandang yang lebih sehat. Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, kesadaran ini penting untuk membuka jalan menuju penanganan masalah mental yang lebih baik.
Baca Juga: 30 Saksi Diperiksa dalam Dugaan Korupsi Pasar Induk Among Tani Kota Batu
Editor : Aditya Novrian