Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kenapa Konten A Day in My Life Selalu FYP? Ternyata Ini Alasannya

Parahita Ade Kumala • Senin, 20 April 2026 | 13:40 WIB
Ilustrasi scroll TikTok yang mengakibatkan short attention span. (Pexels/cottonbro studio)
Ilustrasi scroll TikTok yang mengakibatkan short attention span. (Pexels/cottonbro studio)

BATU, RADAR BATU – Konten bertajuk A Day in My Life belakangan semakin mendominasi media sosial, terutama di TikTok dan Instagram. Mulai rutinitas mahasiswa, pekerja kantoran, hingga konten kreator, format video sederhana ini justru menjadi salah satu tren favorit anak muda.

Tak sedikit konten jenis ini masuk For You Page (FYP) dan ditonton jutaan kali. Meski hanya menampilkan aktivitas sehari-hari, banyak yang penasaran, kenapa konten A Day in My Life begitu digemari?

Ternyata, daya tarik utamanya justru terletak pada kesederhanaan yang terasa dekat dengan kehidupan audiens.

Baca Juga: Tren Color Walk Jadi Aksi Jaga Kebugaran Fisik dan Kesehatan Mental

Penonton diajak melihat keseharian seseorang secara lebih personal. Mulai bangun tidur, bersiap kuliah atau bekerja, rutinitas produktif, hingga aktivitas santai di malam hari.

Format ini membuat audiens merasa sedang mengintip kehidupan orang lain, tetapi dalam cara yang ringan dan tidak terasa dibuat-buat.

Faktor lain yang membuat tren konten TikTok ini viral adalah unsur relatable. Banyak penonton merasa memiliki pengalaman serupa dengan yang ditampilkan kreator.

Dari situ muncul koneksi emosional.

“ternyata hidup orang lain juga sesibuk ini”, atau “rutinitasnya mirip aku”, menjadi respons yang kerap muncul di kolom komentar.

Baca Juga: Pakar Satu Suara Batasi Screen Time Anak

Kedekatan inilah yang membuat penonton bertahan menonton sampai selesai.

Selain relatable, unsur estetik juga jadi kekuatan besar konten ini. Pengambilan gambar yang rapi, pencahayaan yang nyaman dilihat, angle minimalis, dan pemilihan musik yang menenangkan membuat aktivitas biasa terasa menarik.

Bahkan rutinitas sederhana seperti membuat kopi, belajar di perpustakaan, atau perjalanan ke kampus bisa terlihat sinematik.

Tak hanya jadi hiburan, banyak anak muda juga menjadikan A Day in My Life sebagai sumber inspirasi.

Mulai ide produktivitas, manajemen waktu, pola hidup sehat, sampai rekomendasi tempat nongkrong atau gaya hidup sederhana, semuanya bisa muncul dalam video singkat berdurasi kurang dari satu menit.

Baca Juga: Kandang Sampah Botol Ganggu Estetika Kajoetangan

Konten ini juga berkembang sebagai ruang self-expression.

Kreator bebas menunjukkan kebiasaan, gaya hidup, hingga personal branding tanpa harus membuat konten yang terlalu sensasional.

Di tengah banjir konten viral yang serba cepat, format seperti ini justru terasa lebih autentik.

Meski demikian, audiens tetap perlu melihat tren ini secara bijak.

Sebab, tidak semua yang muncul di media sosial sepenuhnya menggambarkan realitas. Ada proses editing, kurasi, dan pengemasan yang membuat keseharian terlihat lebih rapi, produktif, atau estetik dibanding kondisi sebenarnya.

Namun selama dipahami sebagai hiburan dan inspirasi, tren media sosial Gen Z ini dinilai tetap memberi dampak positif.

Dengan konsep sederhana, relatable, estetik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, tak heran jika konten A Day in My Life terus digemari dan menjadi salah satu format paling kuat di media sosial saat ini.

Editor : Aditya Novrian
#FYP #A Day in My Life #Virl