BATU – Pernah merasa lebih cepat lapar saat berada di Kota Batu? Atau saat cuaca mendadak dingin, perut rasanya langsung minta diisi? Tenang, kamu tidak sendiri. Di balik kabut tebal dan suhu sejuk Kota Batu yang menusuk hingga ke tulang, ternyata ada penjelasan ilmiah yang mendukung kepercayaan lokal: dingin memang bikin cepat lapar.
Kota Batu yang berada di dataran tinggi memang dikenal dengan udara sejuknya, terlebih di musim kemarau atau yang disebut warga setempat sebagai “musim dingin”. Saat malam hari, suhu bisa turun hingga 15°C, bahkan lebih rendah di wilayah pegunungan seperti Bumiaji atau Songgoriti. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi cuaca dan suasana, tapi juga... perut kita!
Baca Juga: Suka Lapar Tengah Malam? Waspada! Hindari Makanan Ini, Ganti dengan Camilan Sehat Ini
Ilmu Bicara: Suhu Dingin Picu Rasa Lapar
Menurut para peneliti dan pakar kesehatan, saat tubuh berada di lingkungan bersuhu rendah, ia akan berusaha menjaga suhu inti tetap stabil di kisaran 36–37°C. Proses mempertahankan panas ini disebut thermogenesis, dan memerlukan energi tambahan yang dibakar oleh tubuh. Nah, saat energi tersebut menipis, tubuh otomatis mengirim sinyal ke otak untuk minta “diisi ulang”. Itulah mengapa kita merasa cepat lapar saat kedinginan.
Sebuah penelitian dari jurnal neurosains bahkan menemukan aktivitas spesifik di otak, tepatnya di bagian xiphoid nucleus dalam thalamus, yang langsung memicu dorongan makan saat tubuh merasa dingin. Jadi, bukan sugesti, tapi memang tubuh benar-benar bekerja lebih keras dalam cuaca sejuk.
Tak hanya itu, saat udara dingin, kadar serotonin dalam tubuh cenderung menurun. Hormon ini berperan dalam mengatur mood dan nafsu makan. Akibatnya, kita jadi lebih “lapar mata” terhadap makanan hangat, manis, atau berlemak.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Rentan Terserang Penyakit, Ini Tips untuk Jaga Imunitas Tubuh
Di Batu, Dingin dan Lapar Sudah Jadi Budaya
Di balik sains, kepercayaan bahwa “dingin bikin lapar” sudah lama hidup dalam budaya warga Batu. Tak heran jika warung kopi, penjual jagung bakar, sate kelinci, hingga wedang jahe selalu ramai pembeli, terutama saat malam hari tiba. Makan bukan hanya soal kenyang, tapi juga bagian dari cara warga Batu menghangatkan tubuh dan menjaga keakraban.
Bahkan, sejumlah festival kuliner malam dan pasar rakyat sengaja digelar saat musim dingin karena dianggap pas dengan selera masyarakat yang meningkat. Tradisi berkumpul sambil menyantap hidangan panas juga memperkuat bahwa makanan dan cuaca dingin adalah dua hal yang sulit dipisahkan di Batu.
Baca Juga: Cuaca Tak Menentu, Waspada Musim Pancaroba! Ini Tips agar Tak Gampang Sakit
Data Terkini BMKG: Batu Memang Dingin
Berdasarkan pantauan BMKG dan AccuWeather, suhu rata-rata Kota Batu di bulan Mei 2025 berkisar antara 15–22°C, dengan kelembapan mencapai 90% dan hujan ringan hingga sedang masih kerap terjadi. Suhu ini cukup dingin untuk memicu mekanisme lapar yang telah dijelaskan tadi.
Kesimpulan: Nikmati Saja!
Jadi, jika kamu sedang liburan ke Batu dan merasa cepat lapar, itu wajar, bahkan sehat! Tubuh sedang bekerja keras menghangatkan diri dan butuh energi lebih. Tak perlu menahan diri, mumpung di Batu, manjakan saja perutmu dengan kuliner hangat khas pegunungan. Karena di sini, dingin bukan alasan untuk diam, tapi untuk makan! (my)
Editor : A. Nugroho