Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Laporan Kasus Bullying di Kota Batu, Guru dan Orang Tua Dinilai Masih Kurang Sabar Menghadapi Anak

Fajar Andre Setiawan • Senin, 1 Desember 2025 | 15:51 WIB
Grafis Laporan Kasus Bullying di Kota Batu
Grafis Laporan Kasus Bullying di Kota Batu

BATU - Jumlah kasus bullying di Kota Batu yang terlaporkan sepanjang Januari-November cukup minim. Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) hanya menerima satu laporan sedangkan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat dua aduan. Total kasus sama dengan tahun sebelumnya.

Namun, minimnya laporan belum tentu mencerminkan situasi yang benar-benar membaik. Di satu sisi, rendahnya laporan bisa menandakan kasus bullying menurun atau terselesaikan di tingkat sekolah dan keluarga. Namun di sisi lain, ada kemungkinan kasus tidak dilaporkan karena dianggap selesai, dimaafkan, atau enggan diperpanjang.

“Tidak semua anak berani melapor. Kadang kasus diselesaikan internal, kadang malah hilang begitu saja,” kata Lovita Siregar, Konselor Puspaga Kota Batu. Ia mengaku melakukan pendampingan melalui berbagai kanal kepada korban bullying dan masyarakat secara umum.

Di antaranya melalui sesi parenting saat pembagian rapor, kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), class meeting, hingga undangan khusus dari sekolah. Pendampingan dilakukan dengan metode bermain, bercerita, memvalidasi perasaan, dan berdiskusi tanpa menghakimi.

Pendekatan yang empatik dinilai penting karena banyak pelaku bullying justru mantan korban yang gagal mengelola emosinya. “Masalahnya, guru dan orang tua kerap menginginkan solusi cepat. Mereka tak sabar menghadapi anak dan cenderung menyalahkan atau membentak,” jelasnya.

Padahal pendekatan terburu-buru justru membuat pola bullying berulang. Kasus yang masuk ke Puspaga tahun ini berupa bullying verbal terhadap anak berusia 10 tahun. Pelaku sebelumnya juga pernah mengalami perundungan. Situasi ini, kata Lovita, memperlihatkan pentingnya peran guru dan orang tua untuk menggunakan komunikasi nonkonfrontatif.

“Misalnya, jangan memarahi anak karena punya energi lebih sehingga sering mengganggu teman dan membuat suasan menjadi gaduh,” ujarnya. Lovita meminta agar pendekatan diubah menjadi memberikan pengertian dan validasi kepada energi anak untuk bisa dialihkan ke hal-hal yang positif seperti untuk melindungi teman-temannya.

Dia menilai pembelajaran empati dan batas perilaku harus diajarkan sejak usia pendidikan anak usia dini (PAUD) lewat permainan berbagi dan bergiliran. Dia menambahkan sejauh ini kasus ringan ditangani Puspaga sedangkan yang serius diteruskan ke Unit PPA DP3AP2KB untuk penanganan lanjutan seperti rujukan hukum serta layanan psikologis dan medis.

Terpisah, Kepala SMP Negeri 2 Kota Batu Ida Misaroh menyebut kasus bullying masih ditemukan di sekolahnya meski tergolong ringan. Mayoritas berupa olok-olok, terutama di kelas VII. “Biasanya anak membawa pola komunikasi dari lingkungan rumah atau sekolah sebelumnya. Kata-kata kasar itu memang sering mereka dengar,” kata Ida.

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPKS) selalu bergerak cepat menangani laporan. Pendekatan kepada siswa dan keluarga dilakukan melalui pertemuan orang tua, sesi penguatan karakter, hingga peringatan saat pengambilan rapor. Pada masa MPLS, sekolah menegaskan bullying sebagai tindakan terlarang.

“Yang sering muncul itu olok-olok dan perselisihan yang berujung perkelahian kecil,” ujarnya. Minimnya laporan, menurut Ida, bukan berarti ancaman bullying hilang. Ia menilai kesiapan guru dan orang tua untuk mendampingi anak secara sabar dan berkelanjutan menjadi kunci pencegahan. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#puspaga #kota batu #bullying #PPA