Populasi Hama Ulat di Lahan Pertanian Kota Batu Naik hingga 50 Persen

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 16:00 WIB
HAMA TANAMAN: Petani Torongrejo, Kecamatan Junrejo menunjukkan efek hama ulat dan kaper yang memakan tanaman kembang kol miliknya beberapa hari lalu. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)
HAMA TANAMAN: Petani Torongrejo, Kecamatan Junrejo menunjukkan efek hama ulat dan kaper yang memakan tanaman kembang kol miliknya beberapa hari lalu. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Musim kemarau membawa persoalan baru bagi petani hortikultura di Kota Batu. Populasi hama ulat dan kupu-kupu malam alias kaper meningkat hingga 50 persen dibanding musim hujan. Kondisi itu memaksa petani mempercepat penyemprotan pestisida. Dari yang sebelumnya seminggu sekali menjadi tiga hari sekali.

Langkah itu dilakukan agar tanaman tidak gagal panen. Petani bawang merah di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Jamaati mengatakan serangan ulat paling rawan terjadi saat tanaman berumur sekitar satu bulan atau mulai memasuki fase percabangan. Jika terlambat ditangani, kerusakan tanaman bisa mencapai 90 persen.

Saat serangan masih ringan, petani masih mengandalkan cara manual dengan memungut ulat dari daun sebelum disemprot pestisida. Namun, ketika populasi hama meningkat, penyemprotan menjadi pilihan utama untuk menekan kerusakan.

Baca Juga: Cobek Bakar ABG Batu, Surganya Pencinta Sambal Pedas dengan Lauk Beragam - Radar Batu

Meski sebagian tanaman masih bisa tumbuh tunas baru setelah dipupuk, biaya produksi tetap meningkat. Selain kebutuhan pestisida, petani juga harus menambah biaya tenaga kerja. Untuk lima pekerja dengan upah Rp 50 ribu per setengah hari, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 250 ribu per hari atau sekitar Rp 1,25 juta selama lima hari.

Kondisi serupa dialami Yanto, petani hortikultura di Desa Torongrejo yang membudidayakan sekitar 2.500 tanaman kembang kol dan andewi. Menurutnya, ledakan populasi kaper membuat telur ulat cepat berkembang. Hama tersebut bisa langsung menyerang daun brungkul sejak awal masa tanam.

Baca Juga: Rekomendasi Kolam Renang Murah di Batu, Ada yang Tiketnya Cuma Rp3.000 - Radar Batu

Akibatnya, intensitas penyemprotan meningkat menjadi tiga hari sekali. Padahal, pada kondisi normal penyemprotan cukup dilakukan seminggu sekali. “Hama sekarang lebih banyak. Mau tidak mau harus lebih sering disemprot supaya tanaman tidak rusak,” ujarnya.

Frekuensi penyemprotan yang meningkat membuat biaya produksi ikut membengkak. Harga pestisida kimia berkisar Rp 180 ribu hingga Rp 350 ribu per botol ukuran 200 mililiter. Saat menanam bawang prei, Yanto bahkan mengaku pernah menyemprot dua hari sekali agar tanaman tidak gagal panen.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Musim kemarau Hama Tanaman pertanian pestisida petani