Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Petani Hortikultura Kota Batu Mulai Tinggalkan Pupuk Subsidi, Keluhkan Kualitas hingga Picu Penyakit Tanaman

Fajar Andre Setiawan • Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:42 WIB
KAKI GUNUNG: Seorang petani Kota Batu membersihkan rerumputan di kebun miliknya beberapa hari lalu. Foto: RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
KAKI GUNUNG: Seorang petani Kota Batu membersihkan rerumputan di kebun miliknya beberapa hari lalu. Foto: RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

BATU, RADAR BATU - Program pupuk subsidi yang seharusnya membantu menekan biaya produksi petani justru mulai ditinggalkan sebagian petani hortikultura di Kota Batu.

Mereka memilih menggunakan pupuk nonsubsidi karena dinilai memiliki kualitas yang lebih baik dan memberikan hasil panen yang lebih optimal.

Salah satu petani hortikultura asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Setia Wahyudi, mengungkapkan bahwa banyak petani sayuran kini lebih rela mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pupuk nonsubsidi dibanding memanfaatkan pupuk subsidi yang tersedia.

Menurutnya, perbedaan kualitas antara kedua jenis pupuk tersebut cukup terasa, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem.

“Kalau menggunakan pupuk subsidi saat cuaca tidak menentu, tanaman lebih rentan terserang penyakit seperti busuk daun. Sementara kualitas pupuk nonsubsidi dinilai lebih stabil,” ujarnya.

Baca Juga: Kuota Pupuk Subsidi Kota Batu Tembus 1.051 Ton, Petani Sayur Mengaku Tak Kebagian

Yudi menilai penggunaan pupuk nonsubsidi mampu menghasilkan pertumbuhan daun yang lebih baik, bobot hasil panen yang lebih tinggi, serta ketahanan tanaman yang lebih kuat terhadap serangan hama dan penyakit.

Fenomena tersebut mulai terlihat di sejumlah sentra hortikultura Kota Batu yang selama ini dikenal sebagai penghasil sayur dan komoditas pertanian dataran tinggi.

Padahal, pemerintah telah mengalokasikan pupuk subsidi dalam jumlah besar untuk Kota Batu pada tahun ini. Total kuota mencapai 1.051 ton yang terdiri atas 599 ton pupuk NPK, 399 ton urea, dan 53 ton pupuk organik.

Meski demikian, sebagian petani menganggap persoalan utama bukan lagi sekadar ketersediaan pupuk, melainkan kualitas dan kecocokan produk terhadap kebutuhan lahan hortikultura yang mereka kelola.

Baca Juga: Kualitas Buruk, Petani Kota Batu Ogah Pakai Pupuk Subsidi

Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru bagi pemerintah dalam menjaga efektivitas program subsidi pupuk.

Sebab, ketika petani enggan menggunakan pupuk subsidi, tujuan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas pertanian menjadi tidak optimal.

Petani berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas distribusi, tetapi juga mengevaluasi kualitas pupuk yang disalurkan agar sesuai dengan kebutuhan komoditas hortikultura yang menjadi andalan Kota Batu. (kr2/dre)

Editor : A. Nugroho
#pupuk nonsubsidi #pupuk subsidi #desa sidomulyo #program