BATU, RADAR BATU - Perayaan spiritualitas tidak lagi hanya berpusat pada ritus eksklusif, melainkan berekspansi menjadi medium perajut solidaritas kemanusiaan lintas batas. Nilai welas asih ini diwujudkan oleh sekitar 500 umat Buddha yang memadati Vihara Dhammadipa Arama, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo kemarin (31/5). Ratusan jemaat ini berkumpul sejak pagi untuk melangsungkan rangkaian perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE secara khidmat.
Aroma wangi dupa dan lantunan parita menguar kuat di vihara terbesar se-Jawa Timur tersebut. Umat meresapi kekhusyukan melalui prosesi pradaksina. Mereka berjalan rapi mengelilingi objek suci. Dupa merah, lilin wewangian, dan tangkai sedap malam tergenggam erat sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada Sang Buddha.
BACA JUGA: Catat! Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Siswa Saat Memilih Jurusan Kuliah
Sekretaris Padepokan Vihara Dhammadipa Arama Pandita Suyanto menyebut perayaan tahun ini mengawinkan kedalaman spiritual dengan misi sosial nyata. Agenda telah disusun maraton sejak pagi. “Pukul 10.30, prosesi Pindapata dimulai. Para biksu berjalan beriringan untuk menerima persembahan dari umat,” terangnya.
Memasuki tengah hari, ritual dilanjutkan dengan tradisi fangsen atau pelepasan makhluk hidup kembali ke habitat alam bebas. Nilai empati tidak berhenti pada ritus. Vihara membuka posko bakti sosial kesehatan yang dapat diakses masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama.
BACA JUGA: Jumlah Guru Pendamping Khusus Belum Ideal, Satu GPK Bisa Tangani hingga 27 Siswa ABK
Publik bebas memanfaatkan layanan akupunktur, donor darah, hingga terapi dalong untuk pemulihan tulang belakang. “Formatnya nyaris serupa dengan tahun lalu. Pembedanya, tahun ini kami menghadirkan terapi longevitology atau pemulihan berbasis energi alam," imbuh Suyanto.
Memasuki petang, eskalasi spiritualitas jemaat kian menebal. Pembacaan Paritamandala bergema mulai pukul 12.30 hingga 15.00. Rangkaian ini disusul oleh puja bakti lanjutan dan prosesi pradaksina penutup.
Berbeda dengan tahun-tahun lampau, detik-detik perenungan agung Waisak tahun ini tepat jatuh pada pukul 15.44. Sebelum-sebelumnya, momen itu kerap jatuh pada malam atau dini hari. “Begitu detik-detik Waisak terlewati, acara langsung disambung dengan meditasi hening selama 10 menit, kemudian ditutup dengan siraman ceramah Dhamma,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan