Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Anomali El Nino Bertemu Tiga Titik Kritis, BPBD Desak Penetapan Status Siaga Darurat

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 27 Mei 2026 | 00:02 WIB
ASRI: Salah satu lahan Pertanian di Kota Batu.
ASRI: Salah satu lahan Pertanian di Kota Batu.

 

BATU, RADAR BATU - Kombinasi topografi ekstrem, hamparan vegetasi mudah terbakar, serta anomali iklim El Nino berpotensi menciptakan bencana ekologis di kawasan hulu pegunungan Kota Batu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai memetakan tiga faktor utama kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemetaan menjadi basis penetapan status siaga darurat sebelum puncak kemarau melumpuhkan kawasan penyangga.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho merinci tiga faktor kerawanan geografis di wilayahnya. Faktor pertama adalah dominasi pohon cemara gunung. Karakteristik pohon ini sarat dengan kandungan resin. “Sedikit saja terkena pemantik, vegetasi ini langsung tersulut dan mempercepat penyebaran api,” jelas Gatot.

BACA JUGA: Inspirasi OOTD Salat Idul Adha ala Gen Z, Nyaman tapi Tetap Stylish

Faktor kedua bersumber dari lantai hutan. Akumulasi serasah atau daun kering serta alang-alang menjelma menjadi bahan bakar alamiah yang sangat masif saat kemarau. Api kerap membakar hingga ke lapisan bawah tanah. Bara yang tersembunyi di bawah permukaan ini menuntut proses pemadaman yang memakan waktu lama.

Tantangan terberat berada pada faktor ketiga, yakni topografi sosiografis yang ekstrem. Mayoritas titik rawan berada di lereng gunung dan dinding tebing bergradien 60 hingga 70 derajat. Kondisi medan yang sangat curam ini praktis membuat skenario pemadaman manual melalui jalur darat nyaris mustahil dilakukan.

BACA JUGA: Lapak di Sisi Utara Jalan Indragiri Kota Batu Dibongkar untuk Proyek Simpang Patih

Ironisnya, suhu alamiah di Kota Batu tidak cukup ekstrem untuk memicu percikan api secara mandiri. Potensi terbesar justru lahir dari kelalaian manusia alias human error. Praktik pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar serasah, pendaki yang membuang puntung rokok sembarangan, hingga perburuan liar menjadi aktor utama pemicu karhutla.

Berdasarkan rekam jejak, Gatot mengatakan lonjakan titik api masif selalu berpusat di bulan Juli hingga September seiring maraknya aktivitas pendakian. Menghadapi kebuntuan operasi darat dan tingginya risiko, BPBD mengambil langkah taktis. Usulan resmi untuk menetapkan status Siaga Darurat Karhutla tingkat kota tengah diajukan bulan ini.

BACA JUGA: Makan Bakso dengan Pemandangan Alam Terbuka di Bakso Sayur UB Pujon

Status hukum dari kepala daerah ini menjadi kunci untuk mengaktivasi kolaborasi pentahelix.

Di lapangan, pihaknya akan memperketat sinergi dengan Perum Perhutani. Patroli Polisi Hutan (Polhut) di jalur rawan juga bakal dilipatgandakan. Larangan menyalakan api unggun bagi pendaki diberlakukan secara ketat.

Di saat bersamaan, jejaring Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa penyangga dioptimalkan sebagai garda terdepan untuk deteksi dini dan edukasi warga. Melalui program Disaster Forum Academy (DIFA), masyarakat juga mulai diinstruksikan membangun tandon guna mengantisipasi krisis air akibat kemarau panjang.

BACA JUGA:Fenomena Siswa Sulit Menikmati Momen karena Sibuk Mengabadikannya di Media Sosial

Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto menginstruksikan agar seluruh langkah mitigasi daerah terkalibrasi dengan komando provinsi dan pusat. Skema kedaruratan tidak hanya terfokus pada pemadaman api, melainkan juga jaminan logistik dasar.

“Salah satu fokus utama satgas di lapangan adalah memastikan armada distribusi air bersih siap menjangkau wilayah rawan kekeringan. Perangkat daerah wajib memastikan seluruh perlengkapan pemadam dan suplai air dalam kondisi siaga tempur,” tegas Heli. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#BPBD Batu #waspadai el nino #perhutani