29 CJH Masuk Kategori Berisiko Tinggi, Hipertensi dan Diabetes Jadi Penyakit yang Mendominasi

Zanadia Manik Fatimah • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 14:00 WIB
ANTUSIAS: Ratusan Calon Jemaah Haji (CJH) Kota Batu menjalani pemberangkatan secara simbolis di Balai Kota Among Tani pada musim haji tahun lalu. (Kemenag Kota Batu)
ANTUSIAS: Ratusan Calon Jemaah Haji (CJH) Kota Batu menjalani pemberangkatan secara simbolis di Balai Kota Among Tani pada musim haji tahun lalu. (Kemenag Kota Batu)

 

BATU, RADAR BATU - Kondisi kesehatan menjadi variabel krusial menjelang keberangkatan haji. Sebanyak 29 calon jemaah haji (CJH) asal Kota Batu yang tergabung dalam Kloter 4 tahun ini masuk kategori berisiko tinggi berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan. Dari total 150 CJH, di luar jemaah mutasi, sebanyak 29 orang masuk risiko tinggi, 20 risiko sedang, 51 risiko ringan, dan 50 orang dinyatakan tanpa risiko kesehatan.

Koordinator Kesehatan Jemaah Haji Kota Batu Adi Koesaini menjelaskan klasifikasi risiko ditentukan berdasarkan usia dan penyakit penyerta. “Risiko tinggi umumnya dialami jemaah usia di atas 60 tahun dengan penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” ujarnya.

Ia menambahkan, risiko sedang mencakup jemaah lansia dengan hipertensi, diabetes, atau gagal ginjal. Sementara risiko ringan umumnya dialami jemaah di bawah 60 tahun dengan penyakit serupa. “Kalau di bawah 60 tahun tanpa penyakit, masuk kategori tidak berisiko,” jelasnya.

Selain klasifikasi risiko, aspek kelayakan kesehatan atau istithaah juga menjadi perhatian. Dari total 150 jemaah, hanya 36 orang yang masuk kategori istithaah murni. “Artinya benar-benar mampu secara kesehatan tanpa penyakit penyerta sejak awal pemeriksaan,” kata Adi.

Mayoritas jemaah, yakni 113 orang, masuk kategori istithaah dengan pendampingan obat. Satu jemaah lainnya memerlukan pendampingan alat kesehatan. Adi menyebut, sebagian besar jemaah membawa obat pribadi untuk kebutuhan harian. Obat tersebut umumnya berupa obat ringan seperti obat flu, batuk, dan suplemen.

Untuk alat bantu, terdapat satu jemaah perempuan berusia sekitar 63 tahun yang disarankan membawa kursi roda. “Sebenarnya masih bisa berjalan, tetapi kami arahkan membawa kursi roda sebagai antisipasi,” ujarnya.

Baca Juga: Efisiensi Energi, Anggaran Perjadin ASN Kota Batu Dipangkas Separo

Jemaah tersebut juga diminta memiliki pendamping selama ibadah. Pemeriksaan kesehatan terakhir dilakukan pada 12-13 November tahun lalu. Pemeriksaan lebih awal dimaksudkan agar kondisi kesehatan jemaah dapat dipantau dan diperbaiki sejak dini. “Kalau belum istithaah, masih ada waktu untuk intervensi medis,” kata Adi.

Pemantauan kesehatan selanjutnya dilakukan secara berkala di puskesmas sesuai domisili. Jadwal kontrol juga diatur agar kondisi tetap stabil hingga menjelang keberangkatan. Dari sisi usia, komposisi jemaah didominasi kelompok produktif dan lansia. Sebanyak 16 orang berusia 20-45 tahun, 74 orang berusia 40-59 tahun, dan 60 orang berusia di atas 60 tahun.

Adi mengungkapkan ada lima penyakit terbanyak yang diderita jemaah. Hipertensi menempati urutan pertama dengan 38 orang, disusul diabetes 28 orang, penyakit jantung 19 orang, kardiomegali 17 orang, serta kolesterol tinggi pada 21 orang. “Data ini jadi pengingat agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kota Batu Basuki Rachmat menyebut komposisi kloter tidak seluruhnya berasal dari Kota Batu. Sejumlah jemaah merupakan mutasi dari wilayah Kabupaten Malang. “Cukup banyak dari Ngantang, Pujon, Karangploso, dan Kasembon,” ujarnya.

Untuk jemaah mutasi, penanganan kesehatan menjadi tanggung jawab daerah asal. Basuki menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik sebelum berangkat. Ia menyebut salah satu jemaah tertua sempat terancam batal berangkat karena kondisi kesehatan. “Namun akhirnya bisa berangkat setelah kondisinya membaik,” katanya.

Ia berharap seluruh jemaah menjaga kesehatan, baik sebelum keberangkatan maupun selama di Tanah Suci. “Kesehatan menjadi kunci agar ibadah dapat dijalankan dengan lancar dan khusyuk,” tandasnya.

Kursi ASN Kemenhaj Kota Batu Baru Terisi 4 dari 20 Formasi

Keterbatasan sumber daya manusia masih membayangi operasional Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Batu hingga April ini. Dari kebutuhan sekitar 20 aparatur sipil negara (ASN), baru empat formasi yang terisi.

Baca Juga: 4 Tahun Rusak, Jembatan Bareng Dibiarkan Tanpa Perbaikan

Empat ASN tersebut merupakan personel awal yang saat ini menjalankan tugas di Kemenhaj Kota Batu. Mereka sebelumnya bertugas di Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah di Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batu.

Kepala Kemenhaj Kota Batu Basuki Rachmat mengatakan komposisi awal tersebut terdiri atas tiga staf dan satu pimpinan. “Empat orang itu meliputi tiga staf dan satu pimpinan,” ujarnya.

Menurut dia, kebutuhan 20 ASN disesuaikan dengan tipologi kelembagaan tipe B yang ditetapkan pemerintah pusat. Namun, pemenuhan formasi tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh daerah.

“Penempatan ASN sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat,” kata Basuki. Saat ini, Kemenhaj RI membuka peluang mutasi bagi ASN yang berminat bergabung. Meski demikian, proses seleksi hingga penetapan tetap ditentukan di tingkat pusat.

Dalam waktu dekat, direncanakan ada penambahan dua ASN baru. Keduanya akan mengisi jabatan strategis, yakni Kepala Seksi Pelayanan dan Kepala Subbagian Tata Usaha. “Penunjukan dilakukan langsung oleh pusat,” jelasnya.

Namun hingga pertengahan April, kedua posisi tersebut masih belum terisi. Proses pengisian masih menunggu keputusan resmi dari kementerian pusat. Basuki menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan ASN.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 21 April 2026: Kecamatan Junrejo Diguyur Hujan Ringan pada Siang Hari

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kelembagaan sekaligus memastikan layanan haji dan umrah berjalan optimal. “Harapannya, formasi segera terpenuhi agar pelayanan kepada masyarakat bisa maksimal,” pungkasnya. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
haji haji dan umrah