Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (14): Petani Organik Terus Menanam Asa

Rori Dinanda Bestari • Minggu, 12 April 2026 | 09:30 WIB
TANAMAN SEHAT: Widjianto, Petani Organik di Desa Giripurno mengecek kondisi sayur bayam hijau kemarin (11/4). RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
TANAMAN SEHAT: Widjianto, Petani Organik di Desa Giripurno mengecek kondisi sayur bayam hijau kemarin (11/4). RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

 

Di tengah lahan yang menyusut dan dominasi pertanian konvensional, petani organik bertaruh pada kesabaran dan keberlanjutan. 

RORI DINANDA BESTARI

Di Desa Giripurno, ada warna hijau yang tak biasa. Hijau yang bukan sekadar warna. Namun, tanda dari tanah yang mencoba untuk dipulihkan. Selada, pakcoy, kangkung, hingga wortel tumbuh rapi di bawah naungan greenhouse sederhana.

Tidak ada bau kimia yang menyengat. Yang tercium justru tanah basah, segar, dan alami.

Di sela tanaman umum, muncul varietas lain. Di antaranya kale, bayam merah, dan romaine lettuce.

Tanaman-tanaman ini bukan sekadar pilihan. Mereka adalah simbol perubahan. Widjianto adalah bagian dari perubahan itu. Sejak 2012, ia memutuskan beralih dari konvensional ke organik.

Baginya, keputusan itu tidak mudah. Bahkan di tengah perjalanan dia sempat merasa keliru.

Pada awal-awal, panen berulang kali gagal lantaran tanah belum siap dan sistem belum stabil. Namun ia bertahan dan belajar dari kegagalan. Memahami ulang cara bertani.

“Bukan sekadar berhenti pakai kimia, tapi memahami alam,” katanya. Di pertanian organik, ritmenya berbeda. Tak bisa instan dan tak bisa dipaksa. Pemupukan dilakukan lebih sering setiap minggu dengan nutrisi alami.

Dari sisa sayur yang dicampur tetes tebu lalu difermentasi. Pupuk kandang pun tersedia sendiri dari ternak di sekitar lahan. Aktivitas pertaniannya saling terhubung dalam satu sistem dan satu ekosistem.

Tanah perlahan pulih menjadi lebih gembur. Lebih hidup. Tanaman pun ikut berubah menjadi lebih tahan cuaca. Tidak mudah busuk. Di tengah iklim yang tak menentu, ini menjadi keunggulan. Biaya operasional juga menjadi lebih ringan.

Yang paling penting yakni tak lagi tergantung pupuk kimia mahal. Namun keuntungan terbesar bukan di situ, melainkan pada harga. Harga pasar sayur organik lebih stabil. Tak mudah jatuh. Saat konvensional anjlok, organik tetap bertahan.

Selada keriting misalnya. Pernah hanya Rp1.000 per kilogram di sistem biasa. Namun di organik, tetap di kisaran Rp15.000. Selisih yang menentukan keberlanjutan.

Petani organik lainnya, Rakhmad Hardiyanto melihat ini sebagai peluang. Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) itu menilai, organik bukan sekadar teknik. Ia adalah pola pikir. “Tantangan utamanya pasar,” ujarnya.

Pasar organik memang terbatas alias segmentatif. Namun, proyeksi pasar ke depan akan terus tumbuh. Hal itu seiring meningkatnya kesadaran hidup sehat. Permintaan ikut naik.

Melalui CooSAE, ia mendorong sistem terintegrasi.Pertanian dan peternakan disatukan. Kotoran ternak jadi pupuk. Sisa panen jadi pakan. Siklus tertutup, minim limbah, efisien, dan berkelanjutan.

Namun ia mengingatkan peralihan tidak boleh tergesa. Petani konvensional perlu tahap. Melalui standar Good Agricultural Practice (GAP). Penggunaan kimia dikontrol sehingga kualitas tetap terjaga. Yang terpenting tanpa risiko gagal total di awal.

Kini, hasil dari Giripurno mulai meluas dan menjangkau pasar luar kota. Di antaranya Surabaya dan Madiun. Distribusi berjalan. Harga tetap stabil. Petani mulai mendapatkan kepastian. Di tengah lahan yang kian sempit, organik menawarkan sesuatu yang berbeda.

 

Bukan sekadar hasil panen, melainkan ketenangan. Tanah masih bisa dirawat dan pertanian masih punya masa depan. Meski harus tumbuh di celah-celah modernitas.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #organik #kota batu #pertanian kota batu