Petani apel di Kota Batu memilih banting setir ke komoditas jeruk. Selain hemat tenaga, jeruk dinilai lebih tangguh terhadap cuaca. Jeruk kini jadi tumpuan petani untuk menyambung napas ekonomi.
RORI DINANDA BESTARI
PERBUKITAN Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji kini telah berubah wajah. Satu dekade lalu, mata wisatawan dan warga lokal masih dimanjakan rimbunnya dedaunan apel. Pemandangan itu kini berganti deretan pohon jeruk.
Migrasi ke komoditas jeruk menjadi bentuk pertahanan diri para petani dalam menghadapi anomali cuaca dan tingginya biaya perawatan apel. Banyak lahan apel dibiarkan terbengkalai. batang-batang pohon apel mengering tak terawat. Kondisi itu kini kontras dengan semangat petani yang mulai berpaling ke komoditas jeruk.
BACA JUGA: Pencuri Gasak Uang Rp 5 Juta di Rumah Warga Junrejo Batu saat Korban ke Sawah
Berdasarkan survei Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dari 361 petani apel yang menjadi responden, sebanyak 177 orang atau nyaris 50 persen mengaku telah berganti menanam jeruk.
Sutopo, salah seorang petani setempat menjadi saksi bagaimana kejayaan apel yang perlahan memudar di tanah Bumiaji. Di lahan seluas 933 meter persegi miliknya, pohon-pohon apel dulu pernah menjadi tumpuan hidup. Namun, sekarang hanya tinggal kenangan setelah ia memutuskan membabat habis apel miliknya beberapa tahun silam.
“Dulu sumber utama saya memang dari apel, bahkan rumah dan biaya anak sekolah itu hasil dari sana (kebun apel), tapi perawatannya sekarang minta ampun susahnya,” kenang Sutopo. Menurutnya, serangan penyakit cacar buah menjadi momok paling menakutkan. Itulah yang membuat banyak petani apel di desanya memilih menyerah.
BACA JUGA: Wali Kota Nurochman Turun ke Kebun Junggo Petik Apel Bareng Petani untuk Jaga Ikon Kota Batu
Kondisi apel di Bumiaji dan sekitarnya memang sedang dalam titik nadir. Banyak pohon yang tidak lagi produktif karena faktor usia dan tanah yang sudah jenuh kimia. “Kalau apel itu sekali gagal, ruginya besar. Itu alasan saya fokus ke jeruk yang perawatannya lebih ringan secara fisik,” tambahnya.
Di lahan yang sama, Sutopo kini merawat jeruk jenis keprok punten, siyem, dan jeruk peras yang usianya sudah menginjak 12 tahun. Menanam jeruk bukan lantas tak memiliki tantangan. Namun, menurutnya masih tak seberat apel.
Sutopo mengaku musuh utama jeruk yakni serangan lalat buah yang seolah tak ada habisnya. Hama ini membuat buah berlubang, membusuk, lalu jatuh ke tanah sebelum sempat dipetik. Serangan hama otomatis menurunkan hasil produksi secara signifikan.
BACA JUGA: Tebing 15 Meter Longsor di Payung Dua Kota Batu, Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat Tengah Malam
Dia bahkan harus mencari strategi untuk menekan populasi lalat buah. Salah satunya dengan membuat jebakan dari botol bekas yang diisi kapur barus. Cara ini terpaksa dilakukan karena hama seolah sudah kebal dengan berbagai jenis obat semprot kimia.
Persoalan petani jeruk di Kota Batu semakin pelik sejak pemerintah mencabut subsidi pupuk untuk tanaman hortikultura pada akhir 2022 lalu. Alasannya, subsidi hanya untuk tanaman pokok seperti padi dan jagung.
BACA JUGA: Kursi Sekda Kota Batu Dilelang, Pendaftaran Dibuka hingga 21 April, Target Terisi 5 Juni
Sutopo harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk kimia jenis ZA dan Phonska dengan harga nonsubsidi. Sekali memupuk, ia bahkan harus mengeluarkan biaya mencapai Rp650 ribu per sak.
Kondisi pasar pun tidak selalu berpihak pada petani. Tahun lalu, produksi jeruk melimpah dan di saat yang sama harga anjlok hingga Rp2.500 per kilogram. Padahal dalam kondisi normal, harga jeruk di tingkat pengepul bisa mencapai Rp10-15 ribu.
Sedangkan, hasil produksi jeruk tahun ini mengalami penurunan akibat cuaca kemarau yang tidak menentu. Biasanya ia mampu menghasilkan 6 ton sekali panen. Namun, angka tersebut kini sulit diraih karena banyak pohon yang enggan berbuah.
BACA JUGA: Revitalisasi Jogging Track Taman Bondas Kota Batu Dianggarkan Rp104,41 Juta
Tarto Suswanto, petani lain yang juga sudah bermigrasi ke jeruk sejak beberapa tahun terakhir menyebut apel sebenarnya jauh lebih menguntungkan jangka panjang. Pohon apel memiliki masa hidup relatif lama hingga usia 50 tahun. Hal ini kontras dengan jeruk siam yang rata-benar hanya bertahan hingga usia 12 tahun saja.
“Tapi karena lahan sudah tidak produktif lagi untuk apel, mau tidak mau petani berpaling ke jeruk,” ungkap Tarto. Kini, para petani di lereng Bumiaji hanya bisa berharap intervensi pemerintah. Di benak para petani juga masih ada kecemasan mendalam tentang identitas Kota Batu sebagai Kota Apel yang perlahan mulai terkikis kenyataan ekonomi di lapangan. (*/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan