Lahan pertanian di Kota Batu kian ramai dipasarkan sebagai aset properti. Harga melonjak, papan “dijual” bermunculan, dan kebun produktif berubah fungsi. Di balik geliat investasi, ancaman ekologis dan hilangnya identitas agraris kian nyata.
RORI DINANDA BESTARI
PAPAN bertuliskan “tanah dijual” banyak berdiri di antara pohon apel. Menyela di tengah hijaunya lereng Gunung Arjuno. Pemandangan ini semakin biasa di Kota Batu. Lahan produktif tak lagi sekadar ruang tanam. Ia berubah menjadi komoditas.
Di lereng perbukitan, suara mesin molen kini lebih dominan. Ketukan palu bersahutan. Menggantikan riuh aktivitas panen hasil bumi. Identitas Kota Apel perlahan memudar.
Berganti kota padat dengan deretan vila dan bangunan beton.
BACA JUGA: Bank Jatim Salurkan CSR Rp 236 Juta, Dukung Program 1.000 Sarjana Pemkot Batu
Proses jual beli tanah juga berubah wajah. Jika dulu berlangsung tertutup, kini tampil terbuka. Iklan penjualan kebun apel marak di media sosial. Narasinya seragam, yakni menawarkan hunian sejuk dengan panorama pegunungan.
Harga yang dipasang tidak murah. Tanah eks perkebunan dijual mulai Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta per meter persegi. Nilai ini jauh melampaui fungsi awalnya sebagai lahan produksi.
Godaan ekonomi menjadi sulit ditolak. Banyak pemilik lahan akhirnya melepas tanahnya.
Pertanian kalah oleh logika pasar. Suparman menjadi saksi perubahan itu. Ia bekerja sebagai pengawas di area perumahan Kelurahan Songgokerto. Dulu, wilayah itu adalah kebun apel yang subur dan produktif. Kini kawasan tersebut berubah menjadi hamparan beton.
BACA JUGA: Banjir Landa Bumiaji Kota Batu: Rumah Warga Terendam Lumpur, Jalan Rusak, BPBD Minta Tetap Waspada
Menurutnya, perubahan mulai terasa sejak 1990-an. Saat itu, produksi apel mulai menurun.
Serangan hama meningkat dan kualitas tanah ikut memburuk. Biaya produksi tak lagi sebanding dengan hasil. Petani mulai menyerah bahkan sebagian beralih profesi.
Sebagian lainnya menjual lahannya. Transformasi lahan pun dimulai. Pada 1996, pengembang dari Surabaya mulai masuk. Ia membangun perumahan di atas bekas kebun apel. Proyek sempat tersendat masalah keuangan yang membuat pembangunan terhenti.
BACA JUGA: Pemkot Batu Penuhi Janji, Peraih Emas Porprov Terima Beasiswa 1.000 Sarjana
Namun tidak lama kemudian, pada 2001 proyek diambil alih pengembang lain. Alih fungsi lahan kembali berjalan dan terus berlanjut hingga sekarang. Pola ini kini terulang di banyak titik. Permintaan hunian di kawasan sejuk meningkat. Lahan pertanian menjadi target.
Namun di balik geliat itu, ada ancaman yang mengintai. Ketua Pokja Peningkatan Status Kota Batu Andrek Prana mengingatkan dampak ekologisnya. Menurutnya, setiap lahan yang tertutup beton kehilangan fungsi alaminya.
Tanah tak lagi menyerap air. Air hujan yang mengalir di permukaan berpotensi membawa lumpur dan sampah. Mengarah ke sungai di dataran rendah. “Setiap bangunan di lereng mengurangi daya resap air,” tegasnya.
Dampaknya tidak sederhana. Erosi meningkat dan sedimentasi sungai bertambah. Cadangan air tanah menurun. Dalam jangka panjang, risiko bencana ikut naik.
Ironisnya, arah kebijakan justru memperkuat tren ini.
BACA JUGA: Pemkot Batu Salurkan Beasiswa 1.000 Sarjana, Ada 47 Mahasiswa yang Mulai Terima Manfaat
Berdasarkan data Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) 2022-2042 menunjukkan penyusutan lahan pertanian dari 5.883 hektare menjadi sekitar 4.200 hektare. Di saat yang sama, kawasan pariwisata justru semakin luas dari 66 hektare menjadi 388 hektare.
Angka ini menunjukkan arah pembangunan. Pertanian bukan lagi prioritas utama. Kota bergerak menuju sektor jasa dan properti. Tanah tidak lagi dilihat sebagai sumber pangan.
Melainkan sebagai aset investasi.
Jika tren ini terus berlanjut, masa depan pertanian kian terancam. Kebun apel yang dulu menjadi kebanggaan bisa hilang. Akhirnya apel suatu saat nanti akan hanya tersisa sebagai cerita saja. Bukan lagi sebuah realitas.
Padahal dulu sektor pertanian Kota Batu, khususnya kebun-kebun apel mampu jadi tumpuan utama hidup para petani lokal. Namun, kini lahan pertanian tak bisa sepenuhnya jadi tempat bergantung di tengah gejolak industrialisasi atau eksploitasi lahan. (*/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan