Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

One Way dan Jalur Alternatif Masih Jadi Andalan Rekayasa Lalin Pemkot Desak Peningkatan Status dari Lokal ke Nasional

Rori Dinanda Bestari • Kamis, 19 Maret 2026 | 12:30 WIB

 

Arus Lalu Lintas di Kota Batu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
Arus Lalu Lintas di Kota Batu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

 

BATU - Lonjakan wisatawan saat libur Lebaran kembali akan menguji kapasitas jalan di Kota Batu. Pemerintah Kota Batu menyiapkan rekayasa lalu lintas jangka pendek, sembari mendorong pembangunan jalan nasional sebagai solusi jangka panjang. Langkah itu dibahas menjelang arus mudik dan libur Idulfitri 1447 H. Tekanan kendaraan diperkirakan meningkat tajam, seperti pola tahun-tahun sebelumnya.

Wali Kota Batu Nurochman mengatakan persoalan utama terletak pada keterbatasan infrastruktur. Hingga kini, Kota Batu belum memiliki ruas jalan berstatus nasional. Akibatnya, seluruh mobilitas wisatawan hanya bertumpu pada jalan kota dan provinsi yang kapasitasnya terbatas.

BACA JUGA Percantik Rumah, Banyak Warga Kota Batu Borong Ikan Hias

“Ini menjadi pekerjaan rumah yang krusial karena beban kendaraan sudah melampaui kapasitas ideal,” ujarnya. Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah menyiapkan rekayasa lalu lintas. Skema yang disiapkan meliputi sistem satu arah (one way) dan pengalihan arus ke jalur alternatif saat terjadi kepadatan.

Untuk jangka panjang, pembukaan jalan tembus dinilai mendesak. Langkah ini diharapkan dapat memecah konsentrasi kendaraan yang selama ini terpusat di titik masuk utama.

BACA JUGA Harga Bapokok di Kota Batu Makin Menanjak

Beberapa simpul yang kerap menjadi sumber kemacetan antara lain Pertigaan Pendem dan Simpang Junrejo.

Persoalan ini juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Saat kunjungan ke Kota Batu pada 11 Maret lalu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti keterbatasan akses menuju destinasi wisata. Ia menyebut ketiadaan jalan nasional menjadi kendala dalam pengaturan arus kendaraan, terutama saat lonjakan kunjungan.

“Masalah ini harus dibahas lintas kementerian karena tidak bisa diselesaikan sendiri,” ujarnya. Ia berkomitmen membawa persoalan itu ke forum pembahasan bersama Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR.

Tujuan forum tersebut yakni untuk mencari skema penguatan infrastruktur jalan di Kota Batu. Menurutnya, aksesibilitas menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing pariwisata daerah.

Sementara itu, pengaturan jangka pendek tetap menjadi prioritas. Pemerintah daerah diminta memperkuat koordinasi dengan kepolisian untuk memastikan kelancaran arus mudik.

Di lapangan, Satlantas Polres Batu telah menyiapkan skema pengamanan melalui Operasi Ketupat Semeru 2026. Kasatlantas AKP Kevin Ibrahim menyebut terdapat lima titik rawan kemacetan. Lokasi itu meliputi perempatan Arhanud Pendem, pertigaan Karangploso, perempatan Pesanggrahan, pertigaan TMP Suropati, serta jalur Payung menuju Pujon.

Untuk mengurai kepadatan, rekayasa arus dilakukan secara situasional. Sistem satu arah akan diterapkan jika terjadi penumpukan kendaraan. Selain itu, pengalihan arus juga disiapkan. Kendaraan menuju Jalan Ir Soekarno akan diarahkan melalui jalur alternatif. Sementara arus menuju Kota Malang dapat dialihkan melalui Oro-Oro Ombo.

BACA JUGA Okupansi Vila dan Homestay di Kota Batu Masih 30 Persen Jelang Lebaran

Jalur Klemuk juga akan ditutup selama masa mudik dan balik. Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan di jalur rawan. Petugas akan ditempatkan di titik strategis untuk mengatur lalu lintas dan menertibkan parkir liar. Pos pengamanan dan pos pantau juga disiagakan untuk memantau pergerakan kendaraan secara real time.

Kondisi ini menunjukkan ketimpangan antara kapasitas jalan dan volume kendaraan. Beban lalu lintas di Kota Batu sudah berskala nasional, tapi infrastruktur masih mengandalkan jaringan lokal. Tanpa intervensi struktural, kemacetan berpotensi terus berulang setiap musim libur panjang.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#kota batu #lalu lintas