Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pedagang Pakaian Pasar Induk Among Tani Kota Batu Terpuruk, Sehari Cuma Laku 4 Potong

Fajar Andre Setiawan • Senin, 16 Maret 2026 | 11:03 WIB
TUNTAS: Pengerjaan drainase di kawasan Pasar Induk Among Tani tuntas pada 23 Januari lalu.
TUNTAS: Pengerjaan drainase di kawasan Pasar Induk Among Tani tuntas pada 23 Januari lalu.
BATU - Penjualan pakaian di Pasar Induk Among Tani Kota Batu mengalami penurunan drastis pada pekan kedua Ramadan lalu. Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka anjlok tajam, bahkan ada yang menyebut penurunannya mencapai 96 persen dibanding saat Ramadan beberapa tahun lalu.

Kondisi ini paling terasa pada sektor fesyen dan kebutuhan pribadi. Padahal, periode Ramadan biasanya menjadi momentum panen bagi pedagang pasar tradisional. Sofia, pedagang pakaian yang sudah sekitar 15 tahun berjualan di Pasar Induk Among Tani, mengatakan situasi pasar kini jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Baca Juga: 90 Persen Pedagang Pasar Induk Among Tani Belum Punya NIB, Pemkot Batu Akui Legalitas Usaha Masih PR Besar

Tiga tahun lalu, menjelang Ramadan, omzet hariannya bisa menembus Rp 15 juta. Kini, dalam sehari ia hanya mampu menjual sekitar empat potong pakaian. Menurut Sofia, perubahan pola belanja masyarakat menjadi penyebab utama turunnya penjualan di pasar tradisional.

Grafis Geliat Pasar Tradisional dan Pasar
Modern selama Periode Ramadan
Grafis Geliat Pasar Tradisional dan Pasar Modern selama Periode Ramadan

Banyak konsumen kini lebih memilih membeli pakaian melalui platform digital yang menawarkan model lebih beragam dengan harga yang dinilai lebih kompetitif. Meski memahami perubahan tersebut, Sofia mengaku belum mampu beradaptasi penuh dengan sistem penjualan digital.

“Saya belum terbiasa melakukan siaran langsung, mengunggah katalog produk, maupun mengelola toko online,” ujarnya. Untuk bertahan, Sofia hanya mengandalkan promosi sederhana melalui WhatsApp. Barang dagangannya dia pasang di story atau dibagikan ke grup pelanggan. Pembeli yang berminat akan datang langsung ke kios.

Baca Juga: Pelaku Penganiayaan di Warung Kopi dekat Balai Kota Among Tani Batu Diringkus Polisi

Perubahan perilaku belanja juga membuatnya mengubah strategi dagang. Jika dulu menjual pakaian untuk berbagai usia, kini ia memilih fokus pada pakaian anak-anak karena dinilai lebih aman. “Kalau baju dewasa sekarang saya tidak berani ambil. Takut tidak laku,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lain, Misri Safina. Ia mengaku jumlah pengunjung pasar terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan pada masa Ramadan yang biasanya ramai, ia kini kerap pulang tanpa hasil penjualan. “Sekarang sering pulang tanpa hasil,” tegasnya.

Menurut Misri, faktor usia membuat dirinya kesulitan mengikuti perkembangan teknologi digital. Kondisi itu juga dialami banyak pedagang pasar tradisional lain yang mayoritas berusia lanjut dan belum terbiasa memanfaatkan platform online untuk berjualan. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#fashion #kota batu #Pasar Induk Among Tani