BATU - Rencana besar merombak total wajah Alun-Alun Kota Wisata Batu dipastikan batal direalisasikan dalam waktu dekat. Pemerintah Kota Batu tahun ini memilih menunda revitalisasi besar dan mengalihkan fokus pada peremajaan fasilitas yang mulai menua.
Keputusan itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan. Ia menyebut penataan alun-alun tidak bisa dilakukan secara parsial karena kawasan tersebut terhubung dengan sistem tata kota yang lebih luas. “Penataannya harus sinkron antara taman dan kawasan sekitarnya. Tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah sempat merancang revitalisasi menyeluruh kawasan alun-alun. Rencana itu meliputi penggantian bianglala, penataan ulang playground, serta pembangunan amphiteater sebagai ruang hiburan terbuka. Namun, rencana tersebut harus ditunda. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan efisiensi anggaran.
Dian mengatakan perencanaan penggantian bianglala sebenarnya sudah cukup maju. Dokumen Detail Engineering Design (DED) bahkan telah disiapkan. Namun proses pengadaan belum dapat dilanjutkan.
Selain faktor anggaran, pemerintah juga ingin menyelaraskan penataan alun-alun dengan kawasan di sekitarnya. Mulai dari pengaturan lalu lintas, kantong parkir wisata, hingga akses keluar masuk pengunjung.
“Area ini ditangani beberapa perangkat daerah. Karena itu kami tidak ingin melakukan bongkar pasang yang justru tidak sejalan dengan masterplan kota,” katanya. Meski revitalisasi total ditunda, pemerintah tetap melakukan sejumlah perbaikan. Fokus tahun ini diarahkan pada fasilitas yang bersifat fungsional. Salah satunya fasilitas sanitasi.
Pihaknya telah membangun toilet baru dan akan melengkapinya dengan toilet disabilitas serta ruang laktasi di area rumah apel. “Ini untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, terutama ibu dan anak,” ujar Dian.
Perhatian juga diarahkan pada bangunan ikonik berbentuk apel dan stroberi yang menjadi simbol alun-alun. Kedua bangunan tersebut berdiri sejak 2011 dan selama ini hanya mendapatkan perawatan ringan.
Padahal sejumlah persoalan teknis mulai muncul. Salah satunya kebocoran instalasi air di dalam dinding bangunan. Area playground anak juga akan diperbaiki. Sejumlah bagian lantai yang menipis dan berlubang akan ditambal menggunakan bahan resin.
Rumput sintetis juga diganti secara berkala untuk menjaga keamanan anak. Selain itu, smoking area akan diremajakan. Fasilitas lama dinilai kurang representatif. “Nanti dibuat lebih tertutup dan nyaman supaya kualitas udara di taman tetap terjaga,” kata Dian.
Baca Juga: Omzet Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Kota Batu Melonjak 60 Persen selama Natal dan Tahun Baru
Untuk sektor vegetasi, jumlah pohon dinilai sudah cukup memberikan keteduhan. Namun aspek estetika akan ditingkatkan. Dian berencana mengirim petugas lapangan mengikuti pelatihan pemangkasan pohon agar bentuk tajuk lebih artistik.
Keterbatasan anggaran diakui menjadi tantangan dalam menjaga alun-alun sebagai salah satu magnet wisata Kota Batu. Karena itu pemerintah membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Salah satunya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sebelumnya, DLH pernah bekerja sama dengan produsen cat untuk mempercantik wahana permainan. Dian juga membuka peluang kerja sama dengan perangkat daerah lain maupun pelaku usaha wisata. Misalnya dalam pembangunan pusat informasi pariwisata di kawasan alun-alun.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman memastikan rencana pengadaan bianglala tetap masuk agenda pemerintah daerah. Namun proyek tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. “Kami ingin tetap menggunakan APBD. Jadi harus menunggu kesiapan anggaran,” ujarnya.
Ia juga belum membuka opsi pendanaan melalui CSR. Menurutnya, nilai investasi bianglala masih memungkinkan didanai pemerintah daerah. “Sayang kalau harus diserahkan pihak ketiga, karena itu ikon wisata warga Batu,” kata pria yang akrab disapa Cak Nur itu. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho