BATU - Setelah melalui kajian teknis hampir lima tahun, Gedung Kesenian di Kota Batu resmi ditutup total. Bangunan tersebut dinyatakan tidak lagi layak digunakan dan berisiko membahayakan keselamatan pengunjung maupun pelaku seni.
Keputusan penutupan diambil Dinas Pariwisata Kota Batu berdasarkan hasil kajian forensik konstruksi dan pemeriksaan teknis yang berlangsung sejak 2020. Rekomendasi final baru ditetapkan tahun ini setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas menjelaskan, sejak awal hasil kajian mengarah bahwa gedung tidak aman difungsikan. Namun penetapan resmi baru dilakukan setelah seluruh tahapan pemeriksaan rampung.
“Kajian sudah dilakukan sejak 2020-2021. Rekomendasi final gedung tidak layak digunakan baru ditetapkan tahun ini,” ujarnya. Gedung yang berada di kawasan Oro-Oro Ombo itu direkomendasikan untuk ditutup total, bukan sekadar direhabilitasi sebagian. Jika ingin difungsikan kembali, bangunan harus dibangun ulang dari awal.
“Kalau direhabilitasi, itu sama dengan membangun 100 persen dari nol. Bangunan lama harus dirobohkan terlebih dahulu,” kata perempuan yang akrab disapa Iche tersebut.
Ia mengakui, pembangunan ulang membutuhkan anggaran besar sehingga belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
Untuk sementara, seluruh aktivitas kesenian dialihkan ke Gedung Arjuna Wiwaha sebagai lokasi alternatif. “Sampai kapan belum bisa ditentukan. Sementara semua kegiatan dipindah ke sana,” imbuhnya.
Menurut Iche, kebijakan penutupan tidak menimbulkan penolakan berarti. Kondisi fisik bangunan yang terlihat rapuh membuat masyarakat memahami urgensi langkah tersebut. Hasil pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bagian gedung mengalami kerusakan dan berpotensi ambruk.
Ngadi, pedagang yang biasa berjualan di depan gedung, mengatakan sejak dipasang pemberitahuan penutupan tidak ada lagi aktivitas di dalam bangunan. Meski demikian, halaman depan masih sesekali dimanfaatkan untuk latihan tari atau pencak silat pada sore hari. “Kalau di dalam sudah tidak ada kegiatan,” tandasnya. (dia/dre)
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian