BATU - Penertiban pedagang kaki lima (PKL) liar di kawasan Alun-Alun Kota Wisata Batu kembali menghadapi kendala. Meski larangan berjualan telah dipasang, praktik PKL liar masih marak, terutama saat akhir pekan dan lonjakan kunjungan wisata seperti kemarin (18/2).
Kondisi tersebut memicu kesan semrawut di ruang publik utama kota wisata itu. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) harus bekerja ekstra melakukan patroli rutin demi menjaga sterilisasi kawasan.
Kepala Satpol PP Kota Batu, Fariz Pasharella, mengatakan petugas terus melakukan penyisiran lapangan. Penertiban dilakukan hampir setiap hari, terutama di titik-titik yang kerap dipadati pedagang.
“Termasuk hari ini (kemarin) kami menyisir lagi lokasi. Patroli rutin terus kami lakukan untuk memastikan kawasan tetap steril,” ujarnya. Menurut Fariz, tantangan terbesar muncul saat momen libur panjang dan akhir pekan.
Ketika arus wisatawan meningkat, jumlah PKL liar ikut melonjak. Fenomena kucing-kucingan antara petugas dan pedagang pun kerap terjadi. Saat petugas datang, lapak dibongkar. Namun setelah petugas pergi, pedagang kembali berjualan.
Ia mengakui, penertiban kerap menemui jalan buntu karena tuntutan relokasi dari para pedagang. Di sisi lain, kewenangan relokasi berada pada organisasi perangkat daerah (OPD) lain. “Kalau diusir, mereka pasti bertanya akan dipindah ke mana. Kami belum bisa menjawab karena relokasi bukan kewenangan Satpol PP,” katanya.
Rendahnya kesadaran sebagian pedagang juga menjadi tantangan. Penyitaan barang dagangan, kata Fariz, hanya menjadi opsi terakhir untuk menimbulkan efek jera. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya efektif menekan pelanggaran.
Ia berharap ada sinergi antarinstansi untuk merumuskan solusi komprehensif, termasuk penyediaan lokasi relokasi yang jelas bagi PKL. Tanpa kepastian tersebut, penertiban dinilai hanya bersifat sementara dan berpotensi berulang.
“Ini bukan semata soal estetika dan ketertiban, tapi juga soal perut. Solusinya harus dibahas bersama agar penataan kawasan bisa berjalan tanpa mengabaikan aspek ekonomi warga,” tegasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho