BATU - Skema subsidi transportasi untuk distribusi bahan pokok (bapok) tengah disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu guna menekan gejolak harga di pasaran selama Ramadan. Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) memastikan inflasi tetap terkendali dan tidak menembus 10 persen selama periode tersebut.
Kenaikan harga sejumlah komoditas sejak awal Februari menjadi alarm bagi pemkot untuk segera melakukan intervensi pasar. Cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan lonjakan hingga 2,25 persen pada pekan pertama bulan ini.
Sekretaris Diskumperindag Kota Batu, Nurbianto Puji, mengatakan lonjakan harga menjelang hari besar keagamaan merupakan siklus tahunan. Ramadan hingga Idul Fitri, libur sekolah, serta Natal dan Tahun Baru menjadi periode puncak konsumsi yang hampir selalu diikuti kenaikan harga.
“Pada momen itu mobilitas sektor hospitality tinggi sehingga konsumsi melonjak. Intervensi pasar perlu dilakukan agar harga tidak semakin liar,” ujarnya. Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah subsidi transportasi bagi komoditas yang didatangkan dari luar daerah.
Ya, kebutuhan sejumlah komoditas bahan pokok di Kota Batu masih bergantung pasokan dari daerah lain. Sebab, produksi lokal masih terbatas. Skema kerja sama antardaerah (KAD) selama ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok saat musim permintaan tinggi.
“Misalnya bawang merah yang harus didatangkan dari Bima. Pasokan lokal belum mencukupi, sehingga distribusi dari luar daerah menjadi solusi menjaga stabilitas harga,” jelas pejabat yang akrab disapa Kentor tersebut.
Pemkot Batu telah menjalin kemitraan dengan sejumlah daerah, seperti Samarinda, Kota Mojokerto, hingga sentra pangan di Blitar. Kerja sama tersebut bersifat timbal balik yakni Kota Batu mengirimkan produk hortikultura unggulan, sementara komoditas yang tidak tersedia dipasok dari daerah mitra.
Melalui subsidi transportasi, biaya logistik yang selama ini membebani harga eceran diharapkan dapat ditekan. Pemerintah akan memfasilitasi distribusi komoditas dari sentra produksi menuju Kota Batu agar harga di tingkat konsumen lebih terkendali.
“Kami ingin memastikan manfaat subsidi langsung dirasakan masyarakat, bukan justru berhenti di distributor atau pedagang,” tegas Kentor. Pengawasan harga pun akan diperketat mulai dari distributor hingga pedagang pasar. Pemkot mengantisipasi potensi spekulasi harga di tengah pemberian subsidi.
Intervensi ini bersifat periodik dan hanya dilakukan saat harga berada di puncak agar tidak merusak ekosistem usaha pedagang lokal. Selain subsidi distribusi, operasi pasar akan digelar selama Ramadan untuk menjaga stabilitas harga.
Pemerintah juga melakukan peramalan harga berbasis data stok dan harga distributor guna menentukan kisaran harga eceran ideal di pasar tradisional. “Kami optimistis inflasi tetap terkendali meskipun konsumsi dan kunjungan wisata meningkat. Target kami tidak sampai 10 persen,” tandasnya.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu juga menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai penyangga harga. Kepala Bidang Ketahanan Pangan Distan-KP, Lestari Aji, mengatakan GPM akan digelar di tiga titik selama Ramadan dengan komoditas utama seperti cabai, bawang, tomat, dan daging ayam.
Program tersebut digelar bergilir di desa dan kelurahan, tapi tetap terbuka bagi seluruh warga. “Harapannya kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga terjangkau sehingga daya beli terjaga,” ujarnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho