Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Harga Pangan di Kota Batu Mulai Bergejolak Jelang Ramadan

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 18 Februari 2026 | 09:28 WIB
STOK CABAI: Penjual cabai merah hampir menghabiskan stoknya kemarin (29/7).
STOK CABAI: Penjual cabai merah hampir menghabiskan stoknya kemarin (29/7).

BATU - Menjelang Ramadan, warga Kota Batu mulai menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. Sejumlah komoditas strategis mengalami inflasi bahkan sebelum bulan puasa dimulai. Gangguan produksi akibat cuaca anomali yang berbarengan dengan lonjakan permintaan pasar menjadi pemicu utama.

Kenaikan harga paling terasa terjadi di Pasar Induk Among Tani. Cabai rawit sempat menyentuh Rp90-100 ribu per kilogram. Lonjakan ini diikuti komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih, serta kelompok protein hewani yang turut merangkak naik.

Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kota Batu menunjukkan perubahan tajam dalam waktu singkat. Pada pekan terakhir Januari, tiga komoditas utama justru mengalami deflasi sebesar minus 3,29 persen. Saat itu harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah sempat turun signifikan. 

Grafis Flaktuasi Harga Pangan Jelang Ramadan
Grafis Flaktuasi Harga Pangan Jelang Ramadan

Namun, memasuki pekan pertama Februari, tren berbalik menjadi inflasi 2,25 persen. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,21 persen. Kenaikan kemudian disusul daging ayam ras sebesar 0,12 persen dan bawang putih 0,10 persen.

Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Batu, Nurbianto Puji, menyebut situasi ini dipicu efek domino antara produksi dan permintaan. Menjelang Ramadan, kebutuhan masyarakat meningkat. Di sisi lain, produksi di tingkat petani justru terganggu.

Menurut dia, anomali cuaca atau salah mangsa menjadi faktor utama. Januari yang seharusnya basah justru cenderung kering. Kondisi ini mengganggu fase pertumbuhan cabai dan bawang-bawangan di sejumlah sentra produksi hingga memicu gagal panen.

“Akibatnya terjadi perebutan pasokan antardaerah. Daerah yang bukan penghasil ikut terdampak karena distribusi tersendat,” ujarnya. Ia memprediksi, jika cuaca tak segera membaik, harga komoditas berpotensi terus melonjak dalam beberapa pekan ke depan. 

Dampaknya tidak hanya pada bumbu dapur, tetapi juga merembet ke protein hewani. Kenaikan harga jagung pipilan sebagai bahan pakan turut membuat pembengkakan biaya produksi peternak.

Efeknya, harga daging ayam di pasar tradisional Kota Batu kini bertahan di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Harga telur juga masih tinggi, sekitar Rp30 ribu per kilogram. Pemerintah pusat turut memberi perhatian.

Tim Badan Pangan Nasional melakukan inspeksi ke Pasar Induk Among Tani untuk memastikan kondisi pasokan. Kenaikan harga dinilai dipicu kombinasi kendala distribusi dan ekspektasi pasar menjelang Ramadan.

Pemerintah memastikan stok beras dan kebutuhan pokok utama tetap aman. Beras SPHP masih dijual sesuai harga eceran tertinggi Rp60 ribu per 5 kilogram. Namun, beras premium di pasaran sudah naik ke kisaran Rp75 ribu hingga Rp77 ribu per kemasan.

Harga bawang merah dan bawang putih kini berada di sekitar Rp35 ribu per kilogram. Sementara itu, tekanan harga protein hewani masih tinggi akibat mahalnya jagung sebagai pakan. Untuk meredam gejolak, pemerintah memperketat pemantauan distributor dan gudang penyimpanan.

Pengawasan distribusi juga diperkuat guna mencegah penahanan stok oleh spekulan. Langkah ini ditempuh agar masyarakat tetap dapat mengakses kebutuhan pangan dengan harga yang relatif terjangkau selama Ramadan. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#jelang ramadhan #cabai rawit #harga pangan #kota batu