BATU - Lima kesenian asli Kota Batu kini berada di ambang kepunahan. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mencatat Wayang Orang, Ludruk, Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo sebagai seni tradisi yang aktivitasnya kian menurun dan minim regenerasi.
Penurunan jumlah pelaku seni, macetnya regenerasi, serta terbatasnya sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor utama meredupnya kesenian tersebut. Tanpa intervensi serius, kesenian tradisional khas Batu itu terancam hilang dari ruang publik.
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto menyebut kondisi paling memprihatinkan terjadi pada kesenian Wayang Orang. Saat ini hanya tersisa satu kelompok aktif, yakni Sasono Kridho Budoyo di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Namun, kelompok tersebut kini berada dalam kondisi pasif akibat kekurangan anggota.
“Banyak anggota sudah berkeluarga dan belum ada penerus. Regenerasinya sangat minim,” ujarnya. Kelompok tersebut sempat ditawari tampil dalam agenda rutin pentas Padang Bulan di kawasan Arjuna Wiwaha. Namun, keterbatasan jumlah pemain dan kesiapan teknis membuat mereka belum mampu tampil.
Kondisi serupa juga dialami kesenian Ludruk. Meski nyaris punah, satu kelompok masih bertahan, yakni Ludruk SAS. Disparta terus mendorong kelompok itu agar tetap aktif melalui berbagai agenda pertunjukan. “Masih ada satu kelompok, Ludruk SAS, dengan anggota relatif muda. Kami arahkan tampil di pentas Padang Bulan agar tetap hidup,” jelas Onny.
Sementara itu, kesenian Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo sempat berada pada fase hampir tidak dikenal publik. Kini ketiganya mulai dihidupkan kembali melalui pelatihan dan pembinaan berkala. Tahun lalu, Disparta menggelar pelatihan Ludruk dan Tari Sembromo. Bahkan Tari Sembromo sempat ditampilkan secara kolosal oleh 50 penari dalam pentas Padang Bulan setelah menjalani pelatihan intensif.
Onny menilai persoalan utama meredupnya kesenian tradisi adalah krisis regenerasi dan menurunnya minat generasi muda. Perkembangan teknologi serta budaya populer turut memengaruhi pergeseran minat terhadap seni tradisi. “Generasi sekarang cenderung tertarik pada budaya modern. Jaran Dowo bahkan sempat tidak dikenal publik beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.
Namun, Jaran Dowo mulai kembali dikenal setelah ditampilkan kelompok seni asal Pesanggrahan dalam Batu Art Carnival. Kesenian tersebut juga dipromosikan melalui Dhoho Night Carnival di Kota Kediri. Jaran Dowo memiliki ciri khas bentuk kuda yang memanjang, berbeda dengan jaranan pada umumnya.
Kesenian Gumbingan juga sempat sepi peminat. Kini mulai bangkit setelah terbentuknya komunitas Gumbingnesia dan digelarnya Festival Gumbingnesia sebagai ruang ekspresi baru bagi pelaku seni.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparta Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas menegaskan upaya pelestarian dilakukan secara berkelanjutan. Strategi yang ditempuh meliputi pelatihan rutin, pementasan berkala melalui Padang Bulan, pendampingan sanggar, pencarian generasi penerus, hingga pendokumentasian sejarah kesenian sebagai bahan pengajuan Warisan Budaya Takbenda (WBTB).
“Tahun lalu kami intensifkan pelatihan Ludruk dan Tari Sembromo dengan melibatkan praktisi dan akademisi,” ujarnya. Pada 2026, pelatihan akan difokuskan pada penguatan Tari Sembromo yang memiliki unsur teknis kompleks, mulai dari ketukan nada, gerak, busana, rias, hingga pakem pertunjukan. Pelatihan terakhir tari tersebut sebelumnya dilakukan pada 2005, lalu kembali digelar pada 2025 dan akan berlanjut tahun ini.
Pelestarian juga menggandeng sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler seni tradisi, khususnya karawitan. Disparta menyediakan panggung pertunjukan dalam berbagai event daerah, membentuk duta seni, serta menyalurkan hibah pengembangan kebudayaan kepada lima sanggar seni. Langkah itu diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kesenian lokal yang tetap hidup sebagai identitas budaya Kota Batu. (dia/dre)
Disunting kembali oleh : Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian