KAWASAN seluas sekitar enam hektare itu sejatinya menyimpan sejarah panjang. Ia bukan sekadar destinasi rekreasi. Namun, ruang perjumpaan antara alam, budaya, dan ekonomi warga. Sayangnya, potensi itu seolah tertahan di ruang hampa bernama sengketa pengelolaan. Tarik ulur antara PT Jasa Yasa dan Pemerintah Kota Batu hingga kini belum menemukan titik temu.
Konflik penguasaan lahan yang berlarut membuat berbagai rencana pengembangan hanya berhenti sebagai wacana. Sementara itu, kondisi fisik kawasan terus menua tanpa kepastian perbaikan. Di tengah kebuntuan tersebut, muncul gagasan baru yang mencoba membangkitkan harapan, yakni revitalisasi Songgoriti menjadi Kampung Budaya.
Konsep ini dinilai lebih membumi dan realistis. Sebab, kekuatan tradisi dan identitas lokal bakal dimanfaatkan sebagai fondasi utama. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Status Kota Batu, Andrek Prana, menilai pendekatan budaya menjadi jalan paling masuk akal untuk menghidupkan kembali Songgoriti. Kawasan ini tidak lagi semata dijual sebagai objek wisata alam, melainkan sebagai ruang hidup kebudayaan.
“Dasar kita nanti, Songgoriti harus dikelola jadi Kampung Budaya. Itu identitas yang harus dicapai,” ujarnya. Dalam konsep tersebut, Songgoriti dirancang sebagai ruang terbuka bagi para seniman dan pelaku budaya. Panggung-panggung kesenian, ruang kreatif, hingga aktivitas tradisi direncanakan menjadi denyut baru kawasan.
Jika pengelolaan sudah berada di tangan Pemkot Batu, ruang publik akan dibuka selebar mungkin bagi aktivitas budaya masyarakat. Namun, Andrek menegaskan rencana besar itu tidak akan bergerak tanpa kemauan politik yang jelas. Ia mendesak wali kota dan DPRD segera duduk bersama merumuskan langkah konkret.
Menurutnya, revitalisasi tidak boleh berhenti sebagai wacana musiman. Ia juga mendorong pembentukan tim khusus revitalisasi yang melibatkan berbagai unsur. Tidak hanya birokrasi, tetapi juga masyarakat lokal, LSM, akademisi, dan tokoh budaya. Keterlibatan banyak pihak dianggap penting agar pembangunan tidak kehilangan ruh sosialnya.
“Di dalamnya harus ada keterlibatan dari unsur pemerintah, masyarakat lokal, LSM, hingga tokoh masyarakat,” tegasnya. Tim inilah yang nantinya akan memegang mandat krusial. Mereka ditugasi menyusun kajian mendalam mengenai kondisi kawasan, kebutuhan anggaran, hingga peta jalan revitalisasi.
Kajian tersebut tidak boleh sekadar administratif. Riset harus dilakukan menyeluruh, mempertimbangkan aspek budaya, ekonomi, dan lingkungan. Roadmap yang jelas dianggap penting agar pembangunan Songgoriti tidak lagi bersifat sporadis dan jangka pendek. Tanpa perencanaan matang, revitalisasi berisiko mengulang kegagalan masa lalu. Pembangunan fisik tanpa konsep keberlanjutan.
Setelah kajian rampung, langkah berikutnya adalah diplomasi dengan Pemerintah Kabupaten Malang. Negosiasi diperlukan untuk menentukan bagian mana dari kawasan yang bisa dikelola dan direvitalisasi lebih dulu. Strategi ini dinilai lebih realistis daripada memaksakan pengambilalihan seluruh aset sekaligus. Pasalnya, hal itu berpotensi memperpanjang konflik.
“Setelah kajian matang, Pemkot Batu harus negosiasi bagian mana yang bisa dikelola dan direvitalisasi lebih dulu,” jelas Andrek. Pendekatan bertahap itu diharapkan mampu mempercepat perbaikan infrastruktur tanpa menunggu sengketa lahan sepenuhnya selesai. Sebab, kondisi fisik Songgoriti kian hari semakin memprihatinkan.
Jika terus dibiarkan, bukan hanya bangunan yang rusak, tetapi juga memori kolektif yang ikut memudar. Visi menjadikan Songgoriti sebagai Kampung Budaya juga diproyeksikan sebagai penggerak ekonomi warga. Aktivitas seni dan budaya yang rutin diyakini mampu mendatangkan wisatawan.
Dari situlah perputaran ekonomi diharapkan kembali hidup. Dari UMKM, pedagang kecil, hingga pelaku jasa wisata. Tak hanya itu, aspek lingkungan menjadi perhatian penting. Kelestarian sumber air panas dan keasrian pepohonan harus tetap dijaga sebagai identitas alami kawasan.
Revitalisasi tidak boleh mengorbankan ekosistem yang selama ini menjadi kekuatan utama Songgoriti. “Kemasannya bisa dikolaborasikan, baik seni, budaya hingga bentang alamnya. Kini, nasib Songgoriti masih bergantung pada meja-meja perundingan dan keberanian pengambil kebijakan,” ungkapnya.
Kawasan ini menunggu lebih dari sekadar rencana. Ia menunggu tindakan nyata. Songgoriti bukan hanya kumpulan bangunan tua. Ia adalah ruang sejarah, identitas, dan harapan ekonomi warga. Jika dibiarkan terlalu lama terlelap, bukan mustahil kawasan ini akan tinggal cerita.
Sebaliknya, jika revitalisasi benar-benar diwujudkan, Songgoriti berpeluang bangkit sebagai jantung budaya yang kembali berdenyut di Kota Batu. Sebuah kebangkitan yang bukan hanya memulihkan kawasan, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang kejayaannya. (*/dre)
Editor : A. Nugroho