AROMA dupa tipis menguar dari sela-sela batu kuno Candi Songgoriti. Kabut pegunungan menggantung rendah, menyelimuti pelataran candi yang berdiri sejak abad ke-9 itu. Di antara kepulan asap dan doa-doa yang dilantunkan lirih, masyarakat berkumpul setiap tahun. Kegiatan itu menandai datangnya bulan Suro dalam kalender Jawa.
Di sinilah tradisi Suroan Songgoriti bertahan. Bukan sekadar seremoni tahunan. Namun, simpul ingatan kolektif yang mengikat sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan warga.
Setiap bulan Muharram, kawasan candi yang biasanya sunyi mendadak penuh. Warga dari berbagai penjuru Kota Batu dan daerah sekitar tumpah ruah mengikuti rangkaian ritual.
Mereka datang membawa beras, kelapa, kacang, dan doa-doa panjang yang diwariskan lintas generasi. Ritual dimulai dengan doa bersama di pelataran candi. Lalu dilanjutkan pengambilan air dari sumber mata air yang mengalir di sekitar situs. Air itu dipercaya membawa berkah sekaligus menjadi simbol penyucian diri.
Selepas itu, warga bergotong royong memasak jenang suro dalam kuali besar. Jenang yang telah matang dibagikan kepada siapa saja yang hadir. Tak ada batasan. Tak ada perbedaan. Semua duduk bersila di atas tikar, menikmati hidangan sederhana yang sarat makna spiritual.
“Ini wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan,” ujar Wiji Mulyo, tetua adat Songgoriti.
Menurutnya, tradisi Suroan di kawasan ini termasuk yang paling tua di wilayah Kota Batu. Bahkan, ia meyakini Songgoriti menjadi salah satu daerah pertama yang menggelar perayaan Suroan berskala besar sebelum kemudian diikuti wilayah lain. “Dulu yang rutin mengawali perayaan besar itu di sini. Lalu berkembang ke daerah lain,” katanya.
Setiap tahun, ritual ini juga diwarnai pertunjukan bantengan dan wayang kulit semalam suntuk. Suara gamelan berpadu dengan doa dan tawa warga. Suasana sakral dan meriah menyatu tanpa sekat.
Pada perayaan 2025 lalu, dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan mencapai lebih dari Rp70 juta. Namun pembiayaan dilakukan secara gotong royong. Tidak ada iuran wajib yang memberatkan.
“Setiap keluarga menyumbang sesuai kemampuan. Tidak ada nominal seragam,” jelas Wiji.
Meski begitu, ada kesepakatan nilai sumbangan yang disesuaikan agar semua warga tetap bisa berpartisipasi. Prinsip kebersamaan dijaga agar tradisi tidak berubah jadi beban sosial.
Di tengah redupnya geliat wisata Songgoriti, tradisi Suroan justru jadi momentum menghidupkan kembali kawasan. Ribuan orang datang. Pedagang kecil meraup rezeki. Pasar kembali ramai. Songgoriti seperti kembali ke masa jayanya dalam semalam.
“Kalau suroan, kawasan sini pasti ramai. Pasar juga ikut hidup,” ujar Rubiyati, pedagang di Pasar Songgoriti yang berlokasi tepat di depan kompleks candi. Menurutnya, banyak peziarah datang dari luar kota. Sebagian karena keyakinan spiritual, sebagian lain karena rasa penasaran. Mereka percaya mengikuti Suroan membawa berkah dan ketenangan batin.
Tak jauh dari candi, jejak spiritual lain berdiri dalam kesunyian, yakni makam Mbah Patok. Tokoh yang diyakini sebagai penyebar Islam di wilayah Songgoriti. Mbah Patok dihormati masyarakat hingga kini. Berdasarkan cerita tutur yang berkembang, Mbah Patok disebut memiliki hubungan dengan jaringan ulama besar di Jawa, seperti Sunan Kalijaga.
Nama “Mbah Patok” sendiri berasal dari kisah penemuannya yang unik. Konon, ketika rumahnya dibuka, warga tidak menemukan jasad. Namun, hanya ada sebuah patokan makam. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Mbah Patok. Mbah Patok diyakini sebagai babat alas kawasan ini.
Selain dikenal sebagai penyebar agama, Mbah Patok juga dipercaya memiliki keahlian spiritual tinggi. Dalam cerita masyarakat, ia mampu membuat keris hanya dengan pijatan tangan. Pusaka yang hampir selesai ditempa akan dicelupkan ke sumber air Songgoriti sebagai proses pendinginan terakhir.
Hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah. Terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Peziarah berdatangan untuk berdoa dan memohon keberkahan. Jejak spiritual itu memperkuat identitas Songgoriti sebagai ruang pertemuan antara sejarah Hindu-Buddha dan tradisi Islam Jawa.
Di tengah bangunan hotel tua yang meredup dan kawasan wisata yang kehilangan pamor, tradisi dan spiritualitas justru menjadi energi yang masih bertahan. Namun keberlangsungan itu tidak sepenuhnya aman. Minimnya pengelolaan terpadu dan lemahnya promosi budaya membuat generasi muda perlahan menjauh dari akar sejarahnya sendiri.
Pembangunan Songgoriti ke depan tentu harus mempertahankan nilai sejarah dan spiritual. Sebab, banyak yang tumbuh tanpa benar-benar memahami makna Candi Songgoriti, tradisi Suroan, maupun sosok Mbah Patok. Padahal, potensi wisata spiritual dan budaya di kawasan ini sangat besar.
Jika dikelola serius, Songgoriti bisa menjadi pusat wisata rohani dan edukasi sejarah yang unik di Jawa Timur. Tradisi Suroan dan makam Mbah Patok adalah penanda Songgoriti bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang hidup kebudayaan. Sebuah warisan yang tak ternilai. (*/dre)
Editor : A. Nugroho