Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Siswa di Kota Batu Mulai Digembleng Soal TKA Model Soal Berbasis Analisis Jadi Tantangan Baru

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 10 Februari 2026 | 09:23 WIB
Persiapan pelaksanaan TKA di Kota Batu belum merata. (Freepik)
Persiapan pelaksanaan TKA di Kota Batu belum merata. (Freepik)

BATU - Sekolah dasar hingga menengah pertama di Kota Batu mulai menyesuaikan strategi pembelajaran menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Fokus tidak lagi pada hafalan, melainkan penguatan kemampuan analisis melalui latihan soal, simulasi ujian, dan try out. Persiapan tersebut dilakukan seiring perubahan karakter soal TKA yang dinilai lebih menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Sejumlah sekolah kini mengintegrasikan model soal berbasis literasi dan numerasi ke dalam pembelajaran harian sebagai bentuk adaptasi awal. Kepala SD Negeri Oro-Oro Ombo 2 Budiyono mengatakan, sekolah telah mengikuti simulasi pengerjaan TKA dan memetakan tingkat kesulitan soal. Berdasarkan pengalaman itu, ia menilai model soal TKA mengarah pada kemampuan berpikir analitis tingkat tinggi.

“Menurut Taksonomi Bloom, soal TKA sudah berada pada level C4 ke atas. Artinya siswa tidak cukup hanya menghafal, tetapi harus mampu menganalisis,” ujarnya. Ia menambahkan, soal TKA umumnya berbentuk bacaan panjang. Soal tersebut menuntut pemahaman mendalam. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri di tengah rendahnya minat baca siswa terhadap teks deskriptif kompleks.

Grafis Sekolah Menyambut TKA
Grafis Sekolah Menyambut TKA

Untuk itu, sekolah mulai menyisipkan soal berstandar TKA dalam asesmen harian dan akhir semester. Tujuannya membiasakan siswa memahami pola soal berbasis literasi dan numerasi. “Dengan pembiasaan, siswa akan lebih siap saat menghadapi TKA nanti,” katanya.

Strategi serupa juga diterapkan di SMP Negeri 3 Batu. Budi Prasetyo, sang kepala sekolah menegaskan, pihaknya memilih memperkuat latihan soal. Dia mengaku menghindari menambah beban jam belajar di luar sekolah.

Pendalaman materi dilakukan melalui program SteamPro yang digelar setiap Kamis. Program tersebut berlangsung setara tiga jam pelajaran. Fokusnya pada pemantapan kisi-kisi Matematika dan Bahasa Indonesia.

“Kami manfaatkan jam efektif. Siswa digembleng melalui latihan soal yang relevan dengan kisi-kisi TKA,” ujarnya. Menurut Budi, keterbukaan kisi-kisi soal dari Kemendikdasmen RI menjadi acuan penting bagi sekolah dalam menyusun strategi pembelajaran.

Selain itu, siswa juga didorong mengikuti try out dan simulasi ujian yang diselenggarakan sekolah dan lembaga bimbingan belajar. Meski kesiapan akademik terus digenjot, sejumlah sekolah masih menghadapi kendala infrastruktur.

Di SMPN 3 Batu, misalnya, dari 110 unit komputer yang dimiliki, hanya 60-70 perangkat yang dinilai layak pakai. Sisanya, belum memenuhi spesifikasi untuk pelaksanaan ujian berbasis komputer.

“Kami upayakan upgrade perangkat agar bisa digunakan. Ini penting supaya pelaksanaan ujian tidak terkendala,” kata Budi. Perbaikan juga dilakukan pada ruang laboratorium komputer. Dari tiga laboratorium, dua telah diperbarui dan siap digunakan.

Sementara, satu laboratorium lainnya tengah direhabilitasi dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Dengan fasilitas tersebut, SMPN 3 Batu juga bersiap menjadi lokasi penopang bagi sekolah lain yang masih kekurangan perangkat.

Sebab, beberapa sekolah seperti SMPN 7, diperkirakan akan menumpang pelaksanaan ujian di sekolah tersebut. Meski TKA tidak bersifat wajib, Budi menilai hasil tes tetap berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Karena itu, sekolah berupaya memastikan siswa memiliki kesiapan akademik dan mental sejak dini. “Skor TKA bisa menjadi modal penting bagi siswa untuk melanjutkan ke sekolah yang mereka inginkan. Jadi, persiapan tetap harus maksimal,” tandasnya. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#ppdb #kota batu #tka