ANGIN gunung berembus pelan. Masuk menusuk hingga ke tulang. Bukan semata karena suhu yang menurun. Namun, lantaran sunyi menggantung di antara bangunan-bangunan tua. Songgoriti Culture and Resort dulu identik dengan kemewahan dan keramaian. Kini bangunannya tak lebih dari sekadar rumah besar yang ditinggal penghuninya tanpa pamit.
Langkah kaki menyusuri jalan aspal menuju area resor terasa berat. Di kanan-kiri, rumput liar setinggi betis tumbuh bebas. Ilalang seolah menjadi pagar alami bagi tamu yang nekat datang. Namun, deretan cottage masih berdiri tegak. Cat merah bata di dindingnya belum sepenuhnya pudar.
Bentuk bangunannya masih memancarkan kesan hangat. Tampilannya seperti rumah-rumah kecil yang dulu menjanjikan kenyamanan. Beberapa lampu teras tampak masih menyala. Sementara yang lain telah lama padam.
Jalan menuju kolam renang tertutup rapat. Tak ada suara tawa anak-anak. Tak ada kepulan uap air panas. Hanya angin dan dedaunan kering yang sesekali berderak. Konon, kawasan ini mulai beroperasi pada 1983. Awalnya dikelola PT Jasa Yasa, lalu dikembangkan investor menjadi resor terpadu.
Dalam waktu singkat, Songgoriti Culture and Resort menjelma jantung pariwisata kawasan. Menginap, berenang, hingga berendam air panas bisa dilakukan dalam satu tarikan napas. Namun napas itu kini terhenti. “Sudah sekitar lima tahun tidak beroperasi. Puncaknya waktu pandemi COVID-19,” ujar Jemi, mantan karyawan resor itu.
Baginya, resor ini bukan sekadar tempat kerja, melainkan denyut ekonomi warga sekitar. Dulu, setiap akhir pekan, bus pariwisata besar memenuhi area parkir hingga meluber ke jalan. Wisatawan datang dari berbagai kota. Tak hanya untuk menginap, tetapi juga untuk berendam di kolam air panas umum yang letaknya bersebelahan dengan resor.
“Lokasinya istimewa. Berdampingan langsung dengan Candi Songgoriti dan sumber air panas alami,” kata Jemi. Harga tiketnya pun terjangkau. Dengan Rp10 ribu, wisatawan sudah bisa merasakan sensasi berendam air belerang di udara dingin pegunungan.
Khasiat air panas menjadi magnet utama.
Kandungan belerang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit kulit, gatal-gatal, hingga pegal linu. “Banyak yang datang berkali-kali karena merasa sembuh setelah berendam di sini,” ujarnya. Jemi menunjuk bangunan besar di bagian depan kawasan. Dia menjelaskan bahwa di sana ada hall.
Ruangan itu dulu sering dipakai meeting perusahaan. Atapnya sirap, bukan genteng biasa. Bangunan itu kini berdiri sunyi. Seolah menyimpan gema rapat-rapat dan pesta yang pernah berlangsung. Di balik kemegahan, pengelolaan resor ternyata menyimpan cerita berliku. Menurut Jemi, pengelolaan kawasan sempat berpindah tangan hingga empat kali.
PT Jasa Yasa menyewakan kepada PT Bumi Mas Songgoriti untuk pengembangan vila. Tak berjalan mulus, asetnya berpindah ke pengelola lain hingga akhirnya berhenti total. Saat beroperasi penuh, resor ini mempekerjakan lebih dari 100 karyawan. Sebagian besar warga lokal. “Begitu tutup, semua dirumahkan,” kata Jemi lirih.
Penutupan resor bukan hanya mematikan bisnis, tetapi juga mengeringkan sumber penghidupan ratusan keluarga. Kini, wisatawan pencari air panas lebih memilih Songgoriti Hot Spring yang baru dan modern. Sementara Songgoriti Culture and Resort tertinggal sebagai bangunan tua.
Meski masih ada petugas yang sesekali berjaga dan membersihkan area kantor belakang, kesan terbengkalai tak terelakkan. Investasi besar dan sejarah panjang seolah menguap begitu saja. “Eman. Dulu bagus sekali. Perawatannya terjaga, selalu ramai,” kata Jemi singkat.
Kini, yang tersisa hanyalah bayang-bayang kejayaan. Gerbang terkunci rapat. Dinding membisu. Songgoriti Culture and Resort menyimpan ribuan memori tentang tawa di kolam renang, tentang uap air panas yang menghangatkan tubuh dan ekonomi warga. Sebuah aset wisata legendaris yang kini pasrah menunggu. Apakah akan dibangunkan kembali, atau dibiarkan lapuk ditelan waktu. (*/dre)
Editor : Aditya Novrian