Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (9), Menilik Mata Air Tiga Suhu di Bawah Candi Tertua Jawa Timur

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:43 WIB
LEGENDA HIDUP: Potret mata air di dekat Candi Songgoriti yang menyimpan misteri sumber tiga suhu. Meski ribuan tahun mengalir, kini debitnya mulai terancam masifnya pembangunan di sekitarnya.
LEGENDA HIDUP: Potret mata air di dekat Candi Songgoriti yang menyimpan misteri sumber tiga suhu. Meski ribuan tahun mengalir, kini debitnya mulai terancam masifnya pembangunan di sekitarnya.

AROMA belerang tipis menyergap hidung begitu kaki menjejak pelataran Candi Songgoriti. Udara dingin khas pegunungan Kota Batu perlahan tergeser hawa hangat yang menyembur dari perut bumi. Uap tipis mengepul di antara celah batu tua. Itu sekaligus tanda bumi masih berdenyut di bawah bangunan suci ini.

Candi Songgoriti diyakini sebagai situs tertua di Jawa Timur. Bangunan itu bukan sekadar monumen bisu peninggalan masa Mpu Sindok. Ia berdiri di atas simpul hidrologi yang langka. Yakni tiga sumber mata air yang jaraknya hanya sejengkal. Namun, memiliki karakter suhu berbeda mulai dari panas, dingin, hingga perpaduan keduanya.

Sumber-sumber itu tak mengalir bebas di tanah terbuka. Ia tersembunyi di bawah lapisan batu yang kini diperkuat semen dan jeruji besi. Penutup itu dipasang bukan tanpa alasan. Hal itu bertujuan menjaga kesucian sekaligus mencegah pencemaran oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

“Uniknya, ketiga sumber air di sini punya tiga suhu sekaligus. Panas, dingin, dan panas-dingin,” ujar Feti Fera, Juru Pelihara Candi Songgoriti, sambil menunjuk ke arah cekungan batu di sisi candi. Secara ilmiah, suhu air panas di kawasan ini berada di kisaran 36 hingga 40 derajat celsius.

Panas itu bukan hasil rekayasa, melainkan sisa aktivitas vulkanik purba. Dalam cerita tutur yang diwariskan turun-temurun, kawasan Songgoriti diyakini sebagai bagian dari “kawah” Gunung Kawi purba yang menyusut dan meninggalkan kantong-kantong air panas di bawah tanah.

Fragmen sejarah Mpu Sindok pun kerap dilekatkan pada sumber air ini. Sang empu konon sengaja memilih lokasi pembangunan candi di tempat yang memiliki dua unsur alam sekaligus yakni panas dan dingin. Dua mata air yang berdampingan dianggap sebagai simbol keseimbangan antara raga dan jiwa serta antara manusia dan semesta.

Keanehan Songgoriti tak berhenti di situ. Pernah suatu masa, sumber air ini dikira sekadar genangan biasa. Warga dan pemerintah setempat melakukan penyedotan hingga airnya habis. Namun tak lama kemudian, air itu kembali muncul, perlahan tapi pasti. Hal itu seolah menegaskan dirinya sebagai mata air abadi.

“Dari situ warga yakin, sumber ini tidak bisa dikeringkan,” kata Feti. Di satu titik sumber yang berada tepat di tengah bangunan candi, keajaiban lain terasa jelas. Lapisan permukaannya dingin menyegarkan. Namun begitu tangan merogoh lebih dalam, hawa hangat langsung menyergap. Padahal, air itu keluar dari satu lubang yang sama.

Fenomena “dua suhu dalam satu sumber” ini menjadi magnet mistis bagi para peziarah. Bagi warga Songgoriti, mata air tersebut bukan sekadar objek wisata. Ia dipercaya sebagai obat alami. Setiap hari, warga datang membawa galon, botol, dan gayung. Air panasnya diyakini mampu meredakan penyakit kulit, menghangatkan tubuh, hingga membantu penyembuhan anak-anak yang sakit berkepanjangan.

“Bahkan tamu dari luar kota, termasuk Bali, sering datang bawa botol besar,” ujar Feti.

Sementara itu, sumber air dingin di sisi lain candi punya cerita yang berbeda. Airnya dipercaya memiliki cita rasa menyerupai air kelapa muda yang segar, sedikit gurih, dan murni. Air ini kerap digunakan dalam ritual pembersihan diri sebelum seseorang berdoa di area sakral candi.

Meski telah diambil ribuan liter setiap hari dan mengalir selama ratusan tahun, debit air Songgoriti nyaris tak pernah benar-benar habis. Namun tanda-tanda perubahan mulai terasa.

“Sekarang posisi air memang lebih turun,” kata Feti. Jika dulu cukup mengayunkan tangan untuk menyentuh permukaan air, kini permukaannya merosot hingga sekitar setengah dari ketinggian semula.

Dugaan pun mengarah pada masifnya pembangunan di sekitar kawasan Songgoriti. Termasuk operasional pemandian air panas modern yang diduga menyedot dari kantong sumber yang sama. Di titik ini, kepentingan konservasi sejarah mulai berhadapan dengan ambisi industri wisata.

Songgoriti pun berada di persimpangan antara dijaga sebagai situs warisan atau diperas sebagai komoditas. Namun sejauh ini, mata air tiga suhu itu masih setia mengalir menjadi saksi bahwa di bawah tumpukan batu tua dan sengkarut kebijakan, alam Songgoriti masih bertahan menjaga rahasianya. (*/dre)

Editor : Aditya Novrian