APEL, jeruk manis, dan alpukat tertata rapi di atas meja kayu sederhana. Warna-warni buah itu kontras dengan suasana Pasar Wisata Songgoriti yang lengang. Sesekali, suara pedagang memecah sunyi. Teriakan pendek mengharap kendaraan melambat dan wisatawan turun dari bus.
Harapan itu lebih sering pupus. Bus wisata kerap melintas tanpa berhenti. Sebagian pengemudi mengira kawasan pasar sudah tutup. Sebagian lain sengaja tak mampir. Songgoriti kehilangan magnetnya.
Untuk memberi tanda kehidupan, pedagang memutar musik cukup keras dari kios yang masih buka. Upaya sederhana agar pengunjung tahu pasar belum mati. Namun, cara itu tak selalu sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan.
Di lapangan, cerita pedagang nyaris seragam. Mereka lebih sering merugi. Buah dan bahan pangan tak habis terjual, membusuk, dan berakhir di tempat sampah. Kerugian berlipat karena pedagang harus kembali membeli stok agar tetap bisa berjualan esok hari.
Situasi ini memaksa sebagian pedagang berutang. Bukan untuk memperbesar usaha, melainkan sekadar bertahan. “Belum lagi kalau ke sini harus naik ojek. Kalau seharian tidak laku, tambah rugi,” kata Sujinah, pedagang lama di Pasar Wisata Songgoriti.
Ia menyebut kondisi pasar kini jauh dari kata layak. Beberapa kios lapuk, atap rusak, dan fasilitas minim. Kerusakan kerap dibiarkan tanpa perbaikan. Jika ingin bertahan, pedagang harus membenahi sendiri.
“Parah Songgoriti sekarang,” ucapnya singkat. Biasanya, pedagang bertahan hingga pukul 16.00-17.00. Jika ada tamu datang menjelang sore, mereka rela menunggu lebih lama. Namun, hari-hari lebih sering terjadi tanpa satu pun transaksi.
Adi, warga sekitar yang juga menjadi penjaga Pasar Wisata Songgoriti, menyebut pengunjung masih terlihat pada akhir pekan. Namun jumlahnya jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya
“Retribusi kios tetap jalan. Rp15 ribu per bulan, dibayarkan ke paguyuban,” katanya.
Ia menambahkan, pembaruan surat keputusan (SK) pedagang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Malang. Biayanya Rp19 ribu per kios. Namun hingga kini, proses penerbitan SK baru belum juga dimulai.
Adi menduga masih ada persoalan internal yang belum tuntas. Termasuk sisa utang dari pengelolaan sebelumnya yang disebut-sebut masih menggantung. Akibatnya, kepastian bagi pedagang terus tertunda.
Di tengah ketidakpastian itu, pedagang dan warga sekitar menaruh harapan pada satu hal. Yakni tindak lanjut yang jelas. Penataan ulang kawasan, rehabilitasi fisik yang berkelanjutan, serta penambahan wahana baru dinilai mendesak. Tanpa itu, Songgoriti akan terus kalah bersaing dengan destinasi wisata lain di Kota Batu.
Sementara, pemerintah saling menunggu langkah. Pedagang menanggung dampaknya lebih dulu. Setiap buah yang membusuk dan setiap hari tanpa pembeli adalah biaya yang harus mereka bayar. Di Songgoriti, wisata tak mati seketika. Ia memudar pelan-pelan. Hingga kini mereka yang bertahan, menanggung kerugiannya sendirian. (*/dre)
Editor : Aditya Novrian