Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Harga Apel di Kota Batu Anjlok hingga Rp 9 Ribu Per Kilogram

Fajar Andre Setiawan • Senin, 12 Januari 2026 | 09:41 WIB
SEGAR: Stok buah apel melimpah dan tertata rapi di kawasan Zona Apel Pasar Induk Among Tani Kota Batu beberapa waktu lalu.
SEGAR: Stok buah apel melimpah dan tertata rapi di kawasan Zona Apel Pasar Induk Among Tani Kota Batu beberapa waktu lalu.

BUMIAJI - Harga apel produksi Kota Batu terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini paling dirasakan petani dan pemasok di Kecamatan Bumiaji sebagai sentra utama produksi apel. Melemahnya permintaan pasar membuat harga di tingkat petani dan tengkulak terkoreksi signifikan dibandingkan pertengahan tahun lalu.

Untuk apel jenis anna, harga di tingkat petani kini hanya berkisar Rp9-10 ribu per kilogram. Di tingkat tengkulak, apel ukuran kecil dihargai sekitar Rp9 ribu per kilogram. Sementara, ukuran besar hanya mencapai Rp12 ribu per kilogram. Padahal, pada pertengahan tahun lalu, harga apel anna masih bertahan di kisaran Rp11-12 ribu per kilogram.

“Sekarang dari petani hanya Rp9-10 ribu per kilogram,” ujar Alfan, pemasok apel asal Kecamatan Bumiaji. Menurut Alfan, sebagian besar hasil panen apel saat ini dipasarkan ke luar daerah untuk kebutuhan konsumsi. Namun, volume serapan tidak sebanding dengan produksi yang terus berjalan.

“Kebanyakan dikirim ke luar kota, tapi permintaan tidak setinggi sebelumnya,” katanya. Tekanan harga juga terjadi pada apel manalagi. Harga di tingkat tengkulak bervariasi berdasarkan ukuran. Mulai dari Rp10 ribu per kilogram untuk ukuran AA, Rp14 ribu (A), Rp18 ribu (super), Rp20 ribu (bombay), Rp23 ribu (top), dan Rp26 ribu (loss).

Sementara itu, apel rumbiuti menunjukkan tren serupa. Harga untuk ukuran 9/10 berada di kisaran Rp16 ribu per kilogram, 7/8 Rp24 ribu, 5/6 Rp27 ribu, 3/4 Rp30 ribu, dan super O mencapai Rp35 ribu per kilogram.

Petani apel asal Bumiaji, Utomo, menyebut penurunan harga dipicu turunnya permintaan pasar. Sementara biaya produksi dan perawatan kebun relatif tidak berkurang. “Permintaan turun, harga ikut terkoreksi. Sekarang apel manalagi dari petani hanya Rp10-14 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya masih Rp13-17 ribu,” ujarnya.

Utomo berharap ada upaya stabilisasi harga agar petani tidak terus tertekan. Menurutnya, tanpa intervensi pasar atau perluasan saluran distribusi, posisi tawar petani akan semakin lemah di tengah tingginya biaya perawatan kebun.

Sebagai langkah bertahan, sebagian petani mulai melakukan diversifikasi usaha. “Saya sekarang merambah wisata petik apel, tidak hanya mengandalkan panen untuk dijual,” pungkasnya. (dia/dre)

Editor : Aditya Novrian
#harga apel #anjlok #Bumiaji #kota batu