BATU - Harga daging ayam potong di Kota Batu mulai berangsur turun setelah sempat melonjak tajam selama momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dari sebelumnya menyentuh Rp40 ribu per kilogram, harga ayam di Pasar Induk Among Tani kini melandai menjadi Rp36 ribu per kilogram per kemarin (4/1).
Penurunan harga terjadi seiring meredanya permintaan pasca malam pergantian tahun. Sehari sebelumnya, harga ayam masih berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram. “Pas Nataru kemarin sempat tembus Rp40 ribu per kilogram. Setelah tahun baru, perlahan turun,” ujar Didik Suliyadi, pedagang ayam potong di Pasar Induk Among Tani.
Didik menjelaskan lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya permintaan sejak sekitar sepekan sebelum tahun baru. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, ketika banyak wisatawan yang berlibur dan menginap di vila membeli ayam untuk konsumsi malam pergantian tahun.
“Kalau ramai seperti itu, saya bisa menyembelih sekitar 100 ekor ayam per hari atau setara dua kuintal daging,” katanya. Setelah euforia tahun baru berakhir, permintaan kembali normal dan diikuti penyesuaian harga. Dengan harga Rp36 ribu per kilogram, Didik menilai kondisi pasar mulai stabil. Pada hari biasa, ia menyembelih sekitar 50 ekor ayam per hari.
Didik menyebut pasokan ayam potong diperoleh dari wilayah sekitar Kabupaten Malang. Harga ayam hidup dari peternak langsung berkisar Rp22 ribu per kilogram. Sementara jika melalui perantara, harganya naik menjadi sekitar Rp23,5 ribu per kilogram. “Selisih itu biasanya karena biaya angkut dan distribusi,” ujarnya.
Dari sisi konsumen, turunnya harga ayam disambut positif. Salah seorang pembeli, Wiwin Nur Aini, mengaku lega karena ayam merupakan bahan pangan yang rutin dikonsumsi keluarganya. “Kalau harganya turun, sisa uangnya bisa dipakai beli bumbu atau tambahan lauk lain,” katanya.
Menurut Wiwin, harga ayam di bawah Rp38 ribu per kilogram masih tergolong wajar. Namun, ia berharap harga dapat lebih stabil dalam jangka panjang. “Kalau bisa stabil di kisaran Rp32 ribu per kilogram, itu sudah ideal,” pungkasnya. (dia/dre)
Editor : Aditya Novrian