BATU - Kinerja retribusi parkir Pasar Induk Among Tani Kota Batu sepanjang 2025 kembali menjadi sorotan. Hingga tutup tahun, pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor tersebut hanya mencapai Rp3,33 miliar saja atau sekitar 55,6 persen dari target Rp6 miliar. Capaian ini tak hanya meleset jauh dari target, tapi juga menurun dibandingkan realisasi tahun lalu.
Berdasarkan data per 31 Desember 2025, realisasi retribusi parkir memang sempat bergerak naik di dua bulan terakhir. Pada pertengahan November, pendapatan tercatat Rp2,95 miliar, lalu bertambah sekitar Rp380 juta hingga akhir Desember. Namun, lonjakan tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk menutup selisih target yang terlampau lebar.
Kepala UPT Pasar Induk Among Tani Kota Batu, Gadis Dewi Primandhasari, mengakui capaian 2025 bahkan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024 lalu, realisasi retribusi parkir masih mencapai sekitar Rp3,4 miliar. Penurunan tersebut, menurut Gadis, tak lepas dari persoalan klasik yang belum tuntas yakni kebocoran retribusi.
Ia menyebut kesadaran pengguna parkir dalam membayar tarif resmi masih rendah. Di sisi lain, kelemahan sistem juga turut berkontribusi. “Masih banyak kendaraan yang lolos dari pantauan smart gate parking. Palang pintu tidak selalu menutup sempurna, sehingga kendaraan bisa keluar tanpa melakukan pembayaran,” jelasnya.
Situasi ini memperlihatkan penerapan sistem parkir otomatis belum sepenuhnya efektif. Alih-alih menutup celah kebocoran, perangkat yang ada justru kerap menjadi titik lemah pengawasan. Gadis mengaku telah melakukan sejumlah langkah perbaikan untuk menekan kebocoran. Salah satunya memperketat pengawasan di jalur keluar-masuk kendaraan.
Langkah itu disertai penyesuaian teknis di lapangan. Di antaranya dengan pemasangan water barrier di sisi palang parkir agar kendaraan tidak bisa melintas sembarangan. Namun, langkah tambal sulam tersebut dinilai belum cukup. Gadis menegaskan perlunya perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas parkir.
Terutama, masih kata Gadis, kualitas palang otomatis agar lebih responsif dan mampu menutup secara sempurna. Evaluasi sistem dan koordinasi lintas pihak juga terus dilakukan.
“Perbaikan atau penggantian palang parkir ini mendesak. Kalau tidak segera dibenahi, potensi kebocoran akan terus berulang,” tegasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho