BATU - Tingkat keterisian homestay dan vila di Kota Batu mulai bergerak naik memasuki libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Berdasarkan data Indonesia Home Stay Association (IHSA) Kota Batu, okupansi akomodasi nonhotel telah mencapai 65 persen. Tren peningkatan diprediksi berlanjut setelah Hari Natal.
Ketua IHSA Kota Batu Natalina mengatakan capaian tersebut menunjukkan minat wisatawan mulai pulih, meski belum merata di semua properti. Okupansi cukup variatif. Beberapa vila bahkan ada yang sudah penuh terpesan. Menurut Natalina, lonjakan pemesanan diperkirakan terjadi setelah 25 Desember.
Hal itu seiring dimulainya cuti bersama dan berakhirnya hari kerja efektif. Sebab, meski pelajar telah memasuki masa libur, banyak orang tua baru bisa berwisata setelah memperoleh jadwal cuti resmi. “Liburan keluarga masih sangat dipengaruhi jadwal kerja. Itu sebabnya kenaikan okupansi tidak terjadi sekaligus,” jelasnya.
Selain faktor kalender kerja, cuaca juga menjadi pertimbangan utama wisatawan. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat sebagian calon tamu memilih bersikap menunggu sebelum memutuskan bepergian. “Wisatawan cenderung wait and see, terutama untuk menghindari cuaca ekstrem,” katanya.
Natalina menambahkan karakter wisatawan saat ini juga semakin selektif dalam memilih akomodasi. Fasilitas menjadi faktor penentu utama, terutama vila atau homestay yang menyediakan kolam renang dan fasilitas lengkap untuk keluarga. Meski permintaan meningkat, pelaku usaha memilih menahan laju kenaikan tarif kamar.
Rata-rata penyesuaian harga dipastikan tidak melebihi 100 persen, menyesuaikan kondisi daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih. “Kami sepakat tidak mematok harga terlalu tinggi. Wisatawan sekarang sangat sensitif terhadap harga,” ujar pemilik Bata Merah Guest House itu.
Indikasi melemahnya daya beli juga terlihat dari durasi menginap. Mayoritas reservasi tercatat hanya untuk satu malam saja, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai dua hingga tiga malam. Natalina menduga pembatasan anggaran liburan berkaitan dengan prioritas pengeluaran lain di awal tahun. Mulai dari persiapan Ramadan dan Idul Fitri, hingga kebutuhan biaya pendidikan. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho