Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pasokan Susu Rendah, Peternak di Kota Batu Terpaksa Tolak Permintaan Pasar

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 24 Desember 2025 | 16:40 WIB
BERAKTIVITAS: Salah seorang peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji mengecek sapi di kandang komunal beberapa waktu lalu.
BERAKTIVITAS: Salah seorang peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji mengecek sapi di kandang komunal beberapa waktu lalu.

BUMIAJI - Tingginya permintaan susu sapi segar belum sepenuhnya bisa dijawab peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Keterbatasan pasokan membuat koperasi dan peternak terpaksa menolak sejumlah permintaan, baik dari calon pembeli baru maupun tambahan pesanan pelanggan lama.

Setiap hari, produksi susu dari kawasan Brau dan sekitarnya, termasuk peternak dari Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang berkisar 10.000 liter. Seluruh hasil pemerahan disetorkan ke Koperasi Margo Makmur Mandiri sebagai pengepul utama susu sapi segar.

Pemerahan dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore.

Namun, volume tersebut dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan pasar yang terus meningkat. Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Muhammad Munir, mengatakan keterbatasan pasokan paling terasa pada kerja sama dengan industri pengolahan susu.

“Salah satunya pabrik keju yang sempat meminta suplai setiap hari, tapi belum bisa kami penuhi. Saat ini hanya kami layani tiga kali seminggu, masing-masing 1.000 liter,” ujar Munir.

Menurutnya, permintaan susu segar datang dari berbagai daerah. 

Kendati begitu, permintaan masih didominasi dari wilayah Malang Raya. Konsumen dengan serapan terbesar yakni pabrik susu Greenfields. Namun, dari total produksi harian, koperasi hanya mampu menyuplai sekitar 6.000 liter per hari ke pabrik. 

Hal itu lantaran produksinya harus dibagi dengan konsumen lain. “Pihak pabrik sebenarnya meminta pengiriman dinaikkan hingga 10.000 liter per hari. Tapi kondisi produksi belum memungkinkan,” katanya.

Keterbatasan itu memaksa koperasi menerapkan skema distribusi merata ke berbagai konsumen. Selain ke pabrik besar, susu juga disalurkan ke lima titik lain di wilayah Malang. Termasuk pelaku usaha pengolahan produk turunan susu.

Sebagian pasokan juga dialokasikan untuk produksi susu pasteurisasi yang dikelola kelompok PKK setempat. Munir menilai, peningkatan produktivitas menjadi kunci agar peternak tidak terus berada dalam posisi defisit pasokan.

Upaya tersebut, kata dia, dapat ditempuh melalui penambahan populasi sapi perah serta perbaikan manajemen pakan. “Harapannya, produksi bisa naik sehingga permintaan pasar terpenuhi tanpa harus menolak pembeli,” pungkasnya. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#Bumiaji #kota batu #susu sapi segar #peternak