BUMIAJI - Petani cabai di Kecamatan Bumiaji tengah menghadapi serangan cacar buah alias Anthracnose beberapa pekan terakhir. Penyakit yang dipicu jamur Colletotrichum itu membuat buah menghitam, berbercak, mengerut, hingga membusuk sebelum panen. Dampaknya, produktivitas turun drastis dan harga cabai terus merangkak naik di pasaran.
Gejala serangan terlihat dari kemunculan bintik kecokelatan pada buah, kulit retak, hingga buah yang rontok saat masih muda. Tingginya kelembapan dan curah hujan pada awal musim penghujan mempercepat penyebaran penyakit tersebut. Kondisi cuaca ekstrem memperburuk situasi. Hal itu membuat petani kesulitan mempertahankan produksi.
Akibatnya, pasokan terus berkurang sedangkan kebutuhan cabai realtif stabil bahkan cenderung meningkat menjelang Natal dan tahun baru (Nataru). Konsekuensi lebih jauhnya harga cabai ikut melonjak. Beberapa petani mulai menahan ekspansi lahan tanam karena khawatir rugi jika serangan jamur terus berlanjut.
Petani asal Desa Sumbergondo, Totok mengaku terpaksa mengurangi jumlah tanaman cabai yang ia kelola. Ia hanya merawat sekitar 50 pohon cabai dan memilih beralih menanam bawang pre, tomat, sawi, dan wortel. “Kalau menanam itu (bawang pre, tomat, sawi, dan wortel) yang dinilai lebih stabil dan aman dari risiko kerusakan akibat cuaca,” ujarnya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumbergondo, Suliyono menyebut keluhan serupa terjadi hampir di seluruh wilayah. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan pun terbatas. Dia saran agar petani meningkatkan dosis fungisida berbahan aktif difenokonazol, mankozeb, atau klorotalonil untuk menekan risiko.
“Penyemprotan harus lebih intens selama curah hujan tinggi dan disertai perbaikan drainase agar lahan tidak terlalu lembap,” ungkapnya. Selain itu, petani juga dianjurkan memilih varietas cabai yang lebih tahan Anthracnose, melakukan sanitasi kebun, serta memusnahkan buah yang terinfeksi agar tidak menjadi sumber penularan. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho