BUMIAJI - Sengkarut penurunan debit dua sumber mata air di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, kembali mengemuka. Warga Dusun Sabrang Bendo dan Yayasan Al Hikmah dipertemukan dalam mediasi di Gedung DPRD Kota Batu kemarin (8/12). Sayangnya, pertemuan itu kembali buntu.
Dua sumber mata air yakni Sumber Demun dan Sumber Samin dilaporkan mengalami penyusutan debit sejak enam bulan terakhir. Warga menduga pembangunan tiga sumur bor milik Yayasan Al Hikmah yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi sumber menjadi faktor pemicu. Salah satunya disebut berizin, sementara dua lainnya dipertanyakan legalitasnya.
Kepala Desa Giripurno Suntoro mengatakan mediasi menyoroti dua tuntutan utama. Pertama, pemulihan debit air. Kedua, pembukaan akses fasilitas umum menuju sumber. “Warga hanya ingin sumber kembali mengalir seperti sediakala. Penurunan debit ini sudah mengganggu kebutuhan air harian warga sekitar,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sejumlah upaya telah ditempuh. Termasuk membongkar kolam penampungan agar aliran air kembali langsung ke warga. Namun, debit tak kunjung pulih. Suntoro menilai aktivitas sumur bor di area Ruang Terbuka Hijau (RTH) berpotensi melanggar aturan dan harus dihentikan sementara demi mencegah kerusakan lebih lanjut.
Di sisi lain, Ketua Yayasan LPI Al Hikmah Surabaya Mohammad Zahri menegaskan pembangunan sumur bor didasarkan pada kesepakatan dengan pemilik lahan dan kepala desa sebelumnya. Ia mengklaim tanah yang dibeli yayasan bersertifikat sah dan tidak mencantumkan keberadaan sumber mata air.
Zahri juga menyebut air dari Sumber Samin sepenuhnya dialirkan ke masyarakat untuk irigasi dan kebutuhan minum. Ia meminta warga menghadirkan kajian teknis terkait penyebab penurunan debit agar penyelesaian bisa objektif. “Kami masih wait and see. Kajian ilmiah diperlukan supaya tidak ada saling klaim,” katanya.
Mediasi ini merupakan pertemuan kedua setelah Yayasan Al Hikmah tidak hadir pada undangan 1 Desember lalu. Alih-alih solusi, pembahasan justru memanas dan kembali gagal mencapai kesepakatan. Warga dan yayasan kini menunggu langkah lanjutan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan sumber air yang vital bagi Giripurno. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho