BATU - Progres pengerjaan proyek fisik Pemkot Batu per 21 November masih di kisaran 60-70 persen. Dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) berpacu menuntaskan seluruh paket pekerjaan sebelum kontrak berakhir.
Namun, sejumlah proyek dipastikan rawan molor akibat keterlambatan pengiriman material dan cuaca tak bersahabat. Sebagai informasi, Disperkim menangani 18 proyek yang ditarget rampung Desember. Delapan di antaranya semestinya selesai pada akhir November ini. Sayang, progresnya kini justru masih di bawah 60 persen.
“Peluangnya mundur cukup besar. Tapi kami optimistis bisa tuntas sebelum Desember berakhir,” ujar Syeh Zaenal Arifin, Kabid Cipta Karya Disperkim Kota Batu. Dia menjelaskan proyek yang sedang dikerjakan sebenarnya tergolong ringan, seperti pavingisasi, perbaikan saluran drainase, dan utilitas lingkungan.
Namun, pengiriman material dari pabrik yang sempat tersendat menjadi batu sandungan. Lead time paving yang biasanya 14 hari kini molor karena hujan. Syeh juga mengaku masih menggarap enam proyek tambahan yang ditarget selesai 24 Desember. “Musim hujan membuat suplai melambat,” ujarnya.
Kendati begitu, beberapa proyek strategis menunjukkan progres positif. Misalnya, pembangunan Rest Area Punten yang menelan anggaran Rp1,9 miliar kini progresnya sudah mencapai 79 persen. Sedangkan, peningkatan kapasitas drainase Pasar Induk Among Tani disebut tinggal pemasangan box culvert dan diperkirakan rampung dalam dua pekan.
Kepala DPUPR Kota Batu Alfi Nurhidayat menyebut progres proyek fisik di instansinya berada di angka 65-75 persen. Dia menargetkan seluruh proyek rampung pertengahan Desember nanti. “Pemeliharaan jalan (overlay) sudah tuntas. Yang sedang berjalan meliputi jembatan, drainase, trotoar, dan pedestrian,” jelas Alfi.
Beberapa pekerjaan di bidang Penerangan Jalan Umum (PJU), Sumber Daya AIR (SDA), dan Bina Marga juga telah selesai. Namun, sejumlah proyek masih terdampak cuaca, keterlambatan material, dan hambatan lapangan seperti tiang reklame, kabel vendor, hingga dahan pohon. Seperti di Jalan Brantas, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Ir. Soekarno.
Meski begitu, Alfi menilai sebagian keterlambatan terjadi justru demi standar keselamatan. Ia mencontohkan proyek trotoar dan jembatan di SMP Negeri 3 Batu yang memakai crane 100 ton dengan sensor keselamatan otomatis. “Beberapa kali crane berhenti total karena sensor mendeteksi pohon atau ranting. Ini menunjukkan standar profesionalitas pelaksana,” katanya.
Alfi mengakui sebagian besar proyek DPUPR baru bisa berjalan pada triwulan ketiga menuju keempat. “Estimasi pertengahan Desember seluruh pekerjaan tuntas. Meski dibayangi hambatan teknis dan cuaca, dia tetap yakin proyek fisik tahun ini dapat dituntaskan sebelum tahun anggaran berakhir. “Yang penting kualitas terjaga dan keselamatan kerja tetap prioritas,” pungkas Alfi. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho