Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Angkat Isu Gender hingga Sensitivitas Budaya, 15 Karya 3 Dimensi Bertema "Serusaru" Dipamerkan di Galeri Raos Malang

Aditya Novrian • Selasa, 25 November 2025 | 18:31 WIB
MENAKJUBKAN: Karya tiga dimensi dipajang di Galeri Raos, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu kemarin (24/11).
MENAKJUBKAN: Karya tiga dimensi dipajang di Galeri Raos, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu kemarin (24/11).

BATU - Sebanyak 15 karya tiga dimensi bertema Serusaru dipamerkan di Galeri Raos sejak 22-28 November nanti. Karya-karya itu merupakan hasil tangan dingin seniman muda kelahiran antara 2003-2005. Mereka sengaja menantang konvensi melalui bahan dan proses pembuatan yang tidak lazim.

 

Kata saru dalam bahasa Jawa secara tradisional merujuk pada hal yang tabu atau tidak wajar. Namun, menurut salah seorang peserta pameran, Amadea Shayna Azza tema itu dipahami sebagai bahan dan proses yang tak biasa. Dalam praktiknya, para perupa memanfaatkan beragam material tak terduga seperti kantong urin, stoking, dan plastik leleh.

 

Bahkan ada juga yang memanfaatkan manekin, pot tanaman, bambu, hingga material bangunan. Maka wajar bila objek tiga dimensi itu sengaja memancing rasa ingin tahu itu sekaligus menjadi ketidaknyamanan estetis. Salah satu karya yang mendapat sorotan yakni Pupa. Menurut perempuan yang akrab disapa Eden itu Pupa mengangkat isu feminisme.

 

Diorama tiga sisi itu memvisualkan stereotip gender yang masih mengakar. Banyak yang masih menganggap erempuan hanya layak di tiga peran yang sering disingkat 3M yakni masak, macak, dan manak. “Isu itu masih menjamur di Jawa, termasuk Jawa Timur,” katanya yang menegaskan karya-karya ini sekaligus menjadi komentar sosial.

 

Kurator pameran, Daniela Benedicta menempatkan Serusaru sebagai ruang eksperimen bukan pelarian dari realitas. Namun langkah sadar mencari celah kreatif. Menurut Daniela, pilihan medium yang ekstrem merupakan keputusan konseptual. Itu sekaligus menjadi cara seniman menegaskan kebebasan dari batasan-batasan modernisme yang kaku.

 

“Eksplorasi medium baru menunjukkan seni kini melebur ke dalam interaksi, tubuh, dan waktu. Ia tidak lagi hanya objek statis,” ujarnya. Secara kritis, pameran ini menimbulkan dua diskursus penting. Pertama, soal legitimasi bahan yang ingin mengungkap sejauh mana penggunaan material yang tabu atau repulsif dapat dianggap sebagai bahasa artistik.

 

Kedua, pameran yang menyinggung norma kultural menuntut kurasi yang mampu membaca sensitivitas lokal sekaligus menjaga kebebasan berekspresi seniman muda. Serusaru menawarkan ruang untuk menjumpai proses kreatif yang berliku. Kesalahan dan ketidaksesuaian menjadi sumber gagasan.

Editor : Aditya Novrian
#15 karya 3D dipajang di galeri Raos #Isu gender dan sensitivitas budaya