PRODUKSI makan di Yayasan Al Izzah International Islamic Boarding School (IIBS) Kota Batu terbilang cukup besar. Dua dapur Al Izzah memasak 8.700 porsi makanan setiap hari. Ya, yayasan tersebut memiliki dua dapur. Satu dapur di asrama putri dan satu dapur di asrama putra. Dapur asrama putra memasak 4.800 porsi makan dalam sehari.
Sementara, dapur asrama putri memasak 3.900 porsi makan dalam sehari. Jumlah tersebut merupakan kalkulasi untuk tiga kali makan dalam sehari. Artinya, produksi makan dari dapur asrama putra menyasar 1.600 orang. Terdiri atas 1.300 santri dan 300 tenaga kependidikan (tendik).
Sedangkan, produksi makan dari dapur asrama putra menyasar 1.300 orang. Terdiri atas 1.050 santriwati dan 250 tendik. Direktur Kerumahtanggan Al Izzah IIBS Kota Batu Ust Ahmad Sohibud Dawam mengatakan jam makan terjadwal pada 06.30-07.30, 11.30-12.30, dan 16.30-17.30. Ribuan porsi makanan itu dimasak 20 koki.
Sebelum pemerintah merealisasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Al Izzah International Islamic Boarding School (IIBS) Kota Batu sudah menerapkan konsep serupa. Bahkan dapurnya sudah mengantongi sertifikat penjamah makanan.
Sebanyak 10 koki di dapur asrama putra dan 10 koki di dapur asrama putri. Dawam mengaku sudah mengantongi sertifikat penjamah makanan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bawah naungan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) atas rekomendasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu.
Sehingga, bisa dipastikan semua koki dan pekerja yang terlibat dalam penyajian makanan memiliki kompetensi yang mumpuni. Mulai dari pemilihan bahan pangan, pemrosesan, hingga penyajian dengan cara yang sehat dan terstandardisasi. “Termasuk pekerja di dapur juga dibekali kompetensi mencuci alat makan yang baik,” ungkapnya.
Dengan begitu Dawam memastikan kondisi dapur dan makanan memiliki kualitas yang baik saat didistribusikan kepada para santri dan tendik. Para koki juga mengatur ketat jadwal memasak. Tujuannya untuk memastikan makanan yang disajikan masih dalam kondisi fresh alias tidak basi.
Untuk sarapan, para koki mulai memasak sejak pukul 03.00. Sementara, untuk makan siang, para koki mulai memasak pukul 06.00. Sedangkan, untuk makan sore, para koki memasaknya pukul 14.00. Berbeda dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), makanan para santri di Al Izzah disajikan prasmanan.
Santri bebas mengambil nasi dan sayur sesuai porsi masing-masing. Hanya saja untuk lauk, diambilkan petugas dapur. Lebih lanjut, Kepala Dapur Al Izzah IIBS Kota Batu Nur Indah menyampaikan pemilihan menu makanan berganti-ganti setiap hari. Yang jelas menu yang disajikan sudah melalui konsultasi dengan tenaga ahli gizi di Klinik Al Izzah.
Untuk sekali memasak, Nur bisa menghabiskan empat kuintal beras dalam sehari. Sebanyak tiga kuintal untuk asrama putra dan satu kuintal untuk asrama putri. Selain itu, setiap hari ada 1,5 kuintal daging ayam dan 80-90 kilogram daging sapi yang dimasak per hari. “Makanan ini sudah masuk dalam biaya SPP yang dibayarkan setiap bulan,” ujarnya.
Nur mengklaim tidak ada masalah atau keluhan terkait menu yang disajikan sejauh ini. Sebab, anak-anak yang memiliki alergi makanan tertentu sudah menjadi poin catatan saat pendaftaran. Sehingga, dapur akan menyesuaikan dengan menu-menu lainnya sebagai pengganti. Sejauh ini menu olahan daging ayam, daging sapi, dan capcay jadi favorit santri.
“Pergantian menu dilakukan setiap hari selama 20 hari kerja,” ungkap wanita asli Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji itu. Nur menambahkan belum berminat bergabung menjadi sasaran program MBG. Alasannya, upaya mengontrol kualitas makanan akan menjadi sulit karena tidak bisa mengawasinya secara langsung. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho