BATU - Lima seniman muda unjuk karya dalam pameran bertajuk Berlima Project di Galeri Raos sejak 27 Juli dan akan berakhir 30 Juli mendatang. Mereka mengambil tema utama perjalanan batin manusia. Karya yang dipamerkan berjumlah 30 lukisan.
Masing-masing seniman menyajikan 6 karya dengan dimensi ukuran yang beragam. Mulai dari ukuran 50x50 cm sampai 220x80 cm (3 panel). Seluruhnya memuat unsur perjalanan batin dimulai dari mengenal mitologi Garudeya dan ular naga yang disebut masih absurd.
Selanjutnya, mengenal Humanimal atau simbol hewan pada gunungan wayang purwa sebagai penggambaran nafsu manusia. Disusul dengan Stoicisme atau era di mana manusia mulai berpikir. Lalu memasuki rumitnya interaksi manusia melalui lagu Eternally dari TXT.
"Dan yang terakhir masuk ke konflik batin melalui perjalanan menuju kematian dan pascakematian," terang manajer pameran sekaligus salah satu penyaji Eko Alif Vernanda. Pria asal Kecamatan, Dau, Kabupaten Malang itu mengatakan proses penciptaan karya masing-masing seniman berbeda.
Ada yang butuh waktu sampai satu tahun, ada pula yang cukup dengan 5 bulan saja. Seluruhnya menggunakan media kanvas dengan menggunakan jenis cat yang beragam. Mulai dari akrilik hingga mix metode. Gaya lukisan pun berbeda. Ada yang dekoratif, populer, realisme, dan ilustrasi.
Pameran itu turut menggandeng penulis yang berperan sebagai kurator. Lima penulis berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang merupakan dosen, penulis buku, kurator, pegiat seni, dan pegiat antropologi. "Mereka berasal dari Surabaya dan Malang Raya," imbuhnya.
Hadirnya penulis bertugas sebagai fasilitator pelukis untuk mengantarkan penikmat karya di taraf pemahaman. Sebab, tak semua orang dapat memahami karya hanya dengan melihat. Pasalnya, pelukis hanya mampu menggambarkan filosofi melalui karya. Bukan melalui kata-kata. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho