BATU - Tiga kepala daerah di Malang Raya mengukir sejarah baru. Lima program kolaborasi tuntas dibahas di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Balai Kota Among Tani Batu pada Jumat malam lalu (18/7). Yakni penanganan kemacetan, transportasi terintegrasi, sampah, pariwisata, dan keberlangsungan sumber air.
Program tersebut siap membuktikan sinergitas antar daerah Malang Raya yang solid. Sama seperti tema kegiatannya yakni Sinergitas Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Malang Raya. Wali Kota Batu Nurochman menegaskan, pertemuan pimpinan Malang Raya itu langkah awal untuk mengintegrasikan beberapa pembangunan.
Khususnya yang bisa mendorong pertumbuhan sektor andalan di masing-masing daerah. Misalnya, penanganan masalah kemacetan yang bisa berdampak positif terhadap sektor pariwisata di Kota Batu. Itu juga tidak menutup kemungkinan untuk menumbuhkan sektor yang sama di Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Cak Nur, sapaan akrabnya menyebut program bertajuk Senyawa Malang Raya itu diharapkan dapat menyatukan visi tiga kepala daerah. Sehingga, tidak ada lagi ego sektoral dalam pembangunan Malang Raya. “Untuk itu, perlu ada harmonisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di tiga daerah,” ungkapnya.
Kolaborasi itu mengacu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gerbangkertosusila, Kawasan Bromo-Tengger-Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan. Pperjanjian kerja sama antardaerah Malang Raya masih punya waktu hingga tahun depan.
Bupati Malang H M Sanusi menyambut baik kerja sama tersebut. Sudah ada tiga proyek besar yang diusulkan untuk mengintegrasikan Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Diantaranya pembangunan sky train atau kereta gantung, pembangunan tol Malang-Kepanjen, dan pembangunan tol Sukorejo-Batu.
“Tiga proyek itu merupakan usulan lama. Kami sudah beberapa kali menindaklanjuti,” ujarnya. Misalnya, dalam pembangunan sky train nanti akan dilengkapi terminal wisata di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sementara, proyek tol Malang-Kepanjen dan tol Sukorejo-Batu akan efektif mengurai kemacetan kendati Trans Jatim akan segera beroperasi.
Sepakat dengannya, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai pembangunan tol menjadi solusi terbaik untuk mengurai kemacetan. Dia meminta ada kajian terhadap skema pengurai kemacetan yang sudah diterapkan Kota Malang. Apabila dirasa efektif, pihaknya berharap bisa diterapkan juga di Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Selain itu, dia juga memaparkan masalah utama Kota Malang yakni banjir. Wahyu menilai keberadaan catchment area masih minim. Sehingga, dia menilai perlu penguatan ketahanan sumber daya air. Untuk mematangkan program kolaborasi tersebut, tiga pemerintah daerah di Malang Raya akan membentuk Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD).
“Kami akan buatkan Surat Keputusan (SK) untuk melegalkan pembahasan,” terangnya. Hasil akhir adalah pembagian tugas masing-masing daerah. Kabupaten Malang ditunjuk menjadi koordinator bidang transportasi. Kota Batu memimpin bidang sumber daya air. Sedangkan, Kota Malang sebagai koordinator pengelolaan sampah.
Beberapa proyek tersebut akan dipresentasikan di depan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan pada 23-24 Juli mendatang. Program tersebut diharapkan menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Sehingga, biayanya bisa dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN). (ori/dre)
Editor : A. Nugroho