BATU - Anggota DPRD Kota Batu mendorong pedagang Pasar Induk Among Tani Batu untuk memanfaatkan marketplace.
Sebab, sepinya kunjungan pasar masih terus dikeluhkan.
Itu tak lepas dari pergeseran gaya belanja masyarakat.
Kini masyarakat lebih memilih berbelanja secara online.
Alasannya adalah efisiensi waktu dan kemudahan yang ditawarkan.
Anggota Komisi C DPRD Kota Batu Didik Machmud menilai pemahaman cara kerja marketplace menjadi sebuah keniscayaan bagi pedagang.
Mau tak mau pedagang harus merambah ke marketplace.
Mengingat sekarang siapa saja bisa berbisnis dan berjualan.
Pedagang pasar tak bisa hanya mengandalkan transaksi jual beli secara konvensional saja.
Didik berharap program sekolah pasar bisa segera terealisasi.
Selain untuk membekali literasi keuangan dan manajemen dagang, sekolah pasar diminta memfasilitasi digitalisasi tersebut.
Terutama untuk jenis dagangan yang potensial.
“Kalau makanan kan bisa didaftarkan ke gojek dan sejenisnya,” ucapnya.
Sama halnya dengan penjual pakaian.
Mereka juga bisa berjualan melalui marketplace seperti shopee atau tiktok shop.
Sembari itu, dia meminta agar pemerintah juga memikirkan penataan ulang pasar untuk mendongkrak angka kunjungan.
Sebab, dia menilai rendahnya omzet pedagang juga karena beberapa kesalahan teknis.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Batu Muhammad Rizky Ramdan mengaku punya pandangan yang berbeda.
Sepinya pasar induk bukan semata-mata persaingan sistem penjualan.
Namun, lebih mengarah pada ego sektoral.
“Kalau kami amati setiap pasar pascarevitalisai malah sepi. Itu karena memaksakan kebijakan pusat di tingkat bawah,” ungkapnya.
Seharusnya, kebijakan diterapkan secara bottom up.
Pasalnya, yang tahu kebutuhan pasar adalah pedagang.
Selain itu, menurutnya gaya pasar tradisional dengan sistem transaksi konvensional akan tetap eksis. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana