BATU - Petani bunga potong di Kota Batu sedang lesu.
Cuaca ekstrem yang belakangan ini terjadi membuat produksi bunga merosot hingga 50 persen.
Intensitas hujan yang tinggi membuat ukuran bunga mengecil, mudah rontok, dan busuk.
Itulah yang dirasakan salah seorang petani bunga mawar di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji Ninik Arifah.
Dia mengaku hasil panennya turun drastis.
Biasanya ia bisa memperoleh 5-6 ribu tangkai dalam sekali panen.
“Sekarang dapat 2-3 ribu tangkai saja sudah bagus,” ujarnya.
Ninik menyebut kualitas bunga mawar akan bagus ketika mendapat banyak sinar matahari.
Memasuki musim penghujan ini, tentu intensitas paparan sinar matahari menjadi berkurang.
Padahal Februari ini permintaan bunga potong cukup banyak.
Mulai untuk acara pernikahan hingga menyambut Hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari mendatang.
Itu membuat dirinya terpaksa menolak permintan pengiriman ke luar kota.
Pengiriman ke luar kota hingga 2-3 koli juga tak dirinya sanggupi.
“Ada permintaan 2-3 koli dari luar kota yang tidak saya sanggupi karena stoknya tidak ada,” ungkapnya.
Ia menyampaikan masa panen bunga mawar yakni 3 kali dalam seminggu.
Kondisi itu juga membuat petani terpaksa menaikkan harga bunga potong.
Dari yang biasanya dibanderol harga Rp 800-1.500 per tangkai menjadi Rp 2,5-3,5 ribu per tangkai.
“Permintaan cenderung masih stabil karena memang butuh,” imbuh pemilik Andira Florist itu.
Hal yang sama juga dirasakan salah seorang petani bunga hidrangea, amarantus, silver dolar, dan hortensiadi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Samsul Hadi.
Jenis bunga yang ia tanam memiliki risiko gagal panen yang lebih besar daripada bunga mawar.
Sebab, bunga-bunga yang ia tanam lebih mudah rontok dan busuk saat musim hujan seperti sekarang.
Apalagi ditambah dengan fenomena angin kencang yang terjadi beberapa hari belakangan ini.
Itu membuat produksi bunganya turun sampai 90 persen.
Hadi mengatakan permintaan bunga beberapa waktu terakhir terus meningkat.
Sayangnya stoknya sangat sedikit.
“Kalau ada stok langsung saya unggah di media sosial dan beberapa menit kemudian sudah pasti langsung habis,” tandasnya. (ori/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana