BATU - Tahun ini Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu mendapat anggaran sebesar Rp 246 miliar dari APBD.
Dana tersebut digunakan untuk merealisasikan empat program prioritas pendidikan.
Di antara nya, rehabilitasi gedung sekolah, perbaikan sarana pendidikan, pembangunan Unit Layanan Disabilitas (ULD), dan beasiswa lanjut ke perguruan tinggi.
Kepala Disdik Kota Batu M. Chori mengatakan anggaran yang diterima tahun ini masih cukup besar.
Meski jumlahnya menurun jika dibanding tahun lalu.
Pasalnya, 2024 lalu Disdik menerima anggaran sebesar Rp 256 miliar.
Dia yakin serapan tahun ini akan lebih tinggi.
Apalagi dia telah memiliki empat program prioritas peningkatan kualitas pendidikan.
“Pertama, kami alokasikan anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah,” ujarnya.
Rehabilitasi tidak hanya akan menyasar gedung-gedung sekolah yang rusak.
Namun, juga digunakan untuk pengadaan infrastruktur bangunan baru.
Misalnya, untuk perpustakaan, musala, dan toilet.
Sekolah dengan kerusakan berat dan kebutuhan yang urgen akan menjadi prioritas.
Selanjutnya, tahun ini dia juga akan melakukan penggantian sarana pendidikan yang rusak.
Seperti kursi, meja, papan tulis, dan sejenisnya.
Sebab, banyak sarana pendidikan yang telah berusia tua.
“Ketiga, tahun ini kami mulai pembangunan ULD,” paparnya.
Lembaga tersebut merupakan wacana sejak lama dan baru akan terealisasi tahun ini.
Tujuannya yakni untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan penyandang disabilitas.
Meski sekolah negeri tak boleh menolak siswa berkebutuhan khusus, tak semuanya bisa bersekolah di reguler.
Untuk itu, perlu adanya layanan yang bisa memberikan asesmen awal terkait kebutuhan siswa disabilitas.
Terakhir, yakni program beasiswa lanjut ke perguruan tinggi bagi lulusan SMA yang merupakan warga Kota Batu.
Beasiswa tersebut dibagi menjadi tiga jenis.
Yakni beasiswa luar negeri, beasiswa tidak mampu, dan beasiswa prestasi.
“Tahun lalu kami berikan beasiswa itu ke 84 anak. Tahun ini akan kami tambah kuotanya,” ungkapnya.
Chori menyebut penambahan kuota beasiswa juga dalam rangka menyesuaikan program kepala daerah terpilih untuk mencetak 1.000 sarjana tiap tahunnya.
Di samping itu, pemberian beasiswa sekaligus menjadi upaya meningkatkan angka partisipasi pendidikan dan menekan angka putus sekolah. (ori/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana