BATU - Suasana Jalan Raya Arhanud, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tampak eksotis.
Pasalnya pohon tabebuya mulai bermekaran.
Bunga berwarna kuning yang mirip sakura di Jepang itu membuat pemandangan Jalan Raya Arhanud seperti di luar negeri.
Potret itu tak jarang dimanfaatkan pengguna jalan untuk berfoto.
Keberadaan pohon tabebuya atau pohon bunga terompet di Desa Pendem kini sudah menjadi ikon.
Bahkan pihak desa setempat memiliki agen da festival tabebuya setiap tahunnya.
Tahun ini festival itu akan digelar 3-5 Oktober.
Hal itu disampaikan Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi.
Pihaknya mengatakan ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam festival tersebut.
Mulai bazar UMKM, lomba mewarnai, hingga lomba fotografi.
Ya, sejumlah komunitas dan pencinta fotografi kerap memanfaatkan momen mekarnya tabebuya untuk hunting foto.
Itulah yang mendorong pemerintah desa memfasilitasi kegiatan tersebut dengan lomba fotografi.
Meski begitu, Tri mengatakan saat ini tabebuya masih belum mekar sempurna.
Biasanya puncak mekar bunga terompet itu pada pertengah Oktober nanti.
“Pohon tabebuya hanya akan menyisakan ranting dan bunganya saja saat puncak mekar nanti. Sementara, daun nya akan gugur,” ungkapnya.
Namun, itu tak mengurangi eksotisme pemandangan di Jalan Raya Arhanud saat ini.
Pesona tabebuya di sana berhasil membuat pengendara yang lewat seperti sedang berada di Jepang.
Meski sebenarnya bunga tersebut asalnya dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Tri mengklaim tabebuya sudah menjadi ikon desa sejak 2019 lalu.
“Kalau tanamannya sudah ada sejak 2008 silam,” ucapnya.
Penanaman tabebuya tak berhenti di Jalan Raya Arhanud saja.
Melainkan juga ditanam di sepanjang Jalan Usaha Tani.
Ada sebanyak 500 pohon tabebuya yang kini sudah berusia empat tahun di sana.
Pohon-pohon tersebut juga sudah mulai berbunga.
“Kalau sudah berusia sepuluh tahun pasti lebih bagus lagi,” tambahnya.
Kondisi Jalan Usaha Tani yang relatif sepi juga kerap dimanfaatkan pengguna jalan mengambil foto.
Tri mengatakan akan terus mengem bangkan potensi tersebut.
Dirinya berencana membuka wisata edukasi dengan memanfaatkan lahan warga. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana