Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Produksi Apel Kota Batu Terus Menurun, Ternyata Ini Penyebabnya

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 13 September 2024 | 19:03 WIB

 

Salah satu wisata petik apel di Kota Batu
Salah satu wisata petik apel di Kota Batu

Luas Lahan Tersisa 900 Hektare

BATU - Produksi apel di Kota Batu terus menurun.

Pada 2023 lalu jumlah produksi apel sebanyak 218.622 kuintal.

Jumlah itu pun juga menurun jika dibandingkan produksi 2022 lalu.

Sebab, jumlah produksi apel pada 2022 sebanyak 299.963 kuintal.

Itu artinya ada penurunan sebanyak 81.341 kuintal dalam setahun.

Jumlah produksinya diprediksi akan mengalami penuruan lagi tahun ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Heru Yulianto mengatakan penurunan produksi apel itu lantaran semakin berkurangnya lahan perkebunan di Kota Batu.

Sebab, tahun ini lahan apel tersisa 900 hektare saja.

Padahal, 2012 lalu luas lahan apel mencapai 1,8 ribu hektare.

“Kami terus berupaya untuk mempertahankan apel di Kota Batu. Apalagi apel sudah menjadi ikon Kota Batu,” ucapnya.

Jenis buah yang ditanam petani juga mulai mengalami pergeseran.

Itu bukan tanpa alasan.

Pasalnya, sudah banyak pohon apel yang berusia tua.

Sehingga, pohon tersebut sudah tak produktif lagi.

Itulah yang membuat petani mencoba tanaman buah lainnya.

Banyak pohon apel yang sudah berusia 25 tahun.

Ditambah struktur tanah yang sudah tidak bagus untuk tanaman apel.

Selain itu, biaya sarana produksi (sarprodi) juga kian melambung.

Sehingga, hal itu membuat para petani berpikir ulang untuk mempertahankan tanaman apelnya.

Heru menyebut keadaan diperparah dengan kondisi perubahan iklim.

Itu membuat pergeseran lokasi penanaman apel ke area yang lebih tinggi.

Pergeseran tersebut dapat dilihat dari lingkungan ideal yang selama ini berada di Desa Punten.

Namun, saat ini mulai bergeser ke area di atasnya yakni Desa Tulungrejo.

Perubahan iklim tersebut membuat kualitas buah juga turun.

Menjadi lebih kecil dan asam.

Tentu saja kualitas produksi akan berpengaruh pada harga jual.

Kualitas yang rendah membuat harga jual yang ikut rendah.

Padahal biaya sarprodi terus meningkat.

Ketidakseimbangan itu membuat banyak pohon apel yang akhirnya ditebang.

Petani akhirnya berganti ke komoditas tanaman lain.

Seperti jeruk dan jambu.

Sebab, dua buah tersebut dinilai lebih mudah perawatannya.

Heru mengatakan pihaknya masih fokus melakukan pemetaan.

Pemetaan dilakukan oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk dan Suptropika (BSIP Jestro).

Sementara, riset perilaku dan budaya petani apel Kota Batu sedang berjalan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Setelahnya, baru dilakukan kajian-kajian revitalisasi.

“Bagaimana pun juga kita harus mempertahankan apel sebagai ikon Kota Batu,” pungkasnya. (sif/dre)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#menurun #produksi #apel #Terus