60-70 Pasien Jantung Dirawat Intensif Tiap Bulan

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:00 WIB
SEDANG DISOROTI: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karsa Husada tampak dari Jalan Ahmad Yani, KelurahanNgaglik, Kecamatan Batu.
SEDANG DISOROTI: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karsa Husada tampak dari Jalan Ahmad Yani, KelurahanNgaglik, Kecamatan Batu.

BATU, RADAR BATU - Sebanyak 600-900 pasien mengakses layanan kesehatan di poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karsa Husada Kota Batu setiap bulannya. Dari jumlah tersebut, sekitar 60-70 pasien membutuhkan perawatan di ruang intensif per bulan. Kasus yang banyak ditangani meliputi penyakit jantung koroner akut dan gagal jantung akut.

Hipertensi dan diabetes melitus menjadi faktor risiko yang perlu dikendalikan untuk menekan potensi komplikasi. Dokter Spesialis Jantung Konsultan Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular RSUD Karsa Husada dr Ikhwan Handirosiyanto SpJP(K) mengatakan, penanganan pasien jantung membutuhkan deteksi dini hingga pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Gubug Asape Batu, Tempat Makan Asapan dan Bakaran dengan Suasana Gubuk Tradisional

Dia menjelaskan, penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Jika aliran darah terhambat, maka otot jantung dapat mengalami kerusakan.

Hal itu kemudian yang memicu serangan jantung. Sejumlah faktor risiko yang perlu dikendalikan meliputi hipertensi, diabetes melitus, obesitas, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat. “Hipertensi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena kerap tidak menimbulkan gejala,” ujarnya.

Baca Juga: Fasilitas Cadillac F1 Diklaim Melebihi Mercedez, Begini Ujar Valtterri Botaz

Seseorang bisa merasa sehat meskipun tekanan darahnya telah tinggi. Karena itu, pemeriksaan menggunakan alat pengukur tekanan darah secara berkala tetap diperlukan. Termasuk bagi masyarakat yang tidak merasakan keluhan. Tekanan darah dengan angka sistolik 140 milimeter air raksa (mmHg) atau lebih dan diastolik 90 mmHg atau lebih, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Penentuan diagnosis hipertensi juga perlu mempertimbangkan hasil pengukuran yang sesuai. Bukan hanya satu kali pemeriksaan. Selain mengendalikan faktor risiko, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda serangan jantung. Gejalanya dapat berupa nyeri atau rasa tidak nyaman di dada. Misalnya seperti rasa tertekan, tertindih, dicengkeram, atau terasa terbakar.

Baca Juga: Kapolres Baru Diminta Jaga Sinergi Pengamanan Kota

Keluhan bisa menjalar ke lengan, punggung, leher, dan rahang disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau pusing. Ikhwan mengingatkan, nyeri dada yang berlangsung beberapa menit, terutama jika disertai gejala lain, harus segera dapat pertolongan medis. Masyarakat tidak perlu menunggu hingga 20 menit apabila keluhannya mengarah pada serangan jantung.

Sebab, semakin lama aliran darah ke otot jantung terhambat, semakin besar risiko kerusakan jaringan. Tindakan revaskularisasi atau pemulihan aliran darah, termasuk melalui pemasangan ring pada pembuluh darah koroner dapat dilakukan terhadap pasien dengan indikasi medis tertentu.

Baca Juga: Aktor Yadi Timo Tutup Usia, Masih Bernyanyi dan Bercanda Sehari Sebelum Wafat

Rumah Sakit Karsa Husada memiliki unit perawatan intensif kardiovaskular (cardiovascular care unit/CVCU) dan laboratorium kateterisasi jantung (catheterization laboratory/cath lab). Fasilitas tersebut mendukung penanganan pasien dengan kondisi jantung akut. Termasuk mereka yang membutuhkan tindakan intervensi.

Ikhwan juga menyatakan telah bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hal itu bertujuan untuk penanganan kegawatdaruratan sindrom koroner akut sesuai ketentuan yang berlaku. Di luar penanganan pasien akut, deteksi faktor risiko menjadi bagian penting untuk mencegah komplikasi.

Pemeriksaan dapat dimulai melalui pemeriksaan kesehatan kardiovaskular (medical check-up). Hal itu penting untuk mengetahui faktor risiko. Selain itu, juga untuk menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan.

Baca Juga: BNN Kota Batu Gencarkan Pemberdayaan dan Rehabilitasi

Pemeriksaan penunjang yang tersedia meliputi elektrokardiografi (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung. Kemudian, pemantauan Holter untuk mendeteksi gangguan irama jantung. Selanjutnya, ekokardiografi untuk menilai struktur dan fungsi jantung.

Ada pula uji latih jantung menggunakan treadmill dan ergocycle untuk mengevaluasi respons jantung terhadap aktivitas fisik pada pasien dengan indikasi yang sesuai. Sementara itu, pemindaian tomografi terkomputasi (CT) koroner dengan penilaian calcium score dapat membantu mengidentifikasi penumpukan kalsium.

Baca Juga: Pendakian Panderman dan Bokong via Kota Batu Dibuka Hari Ini

Penumpukan kalsium biasanya terjadi akibat proses aterosklerosis pada pembuluh darah koroner. Bagi pasien yang telah mengalami serangan jantung, gagal jantung, atau menjalani perawatan intensif maupun operasi jantung, rehabilitasi kardiovaskular diperlukan sesuai kondisi medis.

Program ini dapat mencakup latihan fisik terukur, pemantauan tekanan darah dan denyut jantung, konseling gizi, serta pengendalian faktor risiko. “Penanganan penyakit jantung tidak berhenti setelah pasien menjalani tindakan pemasangan ring. Pengendalian faktor risiko dan pemulihan fisik tetap diperlukan untuk menjaga kualitas hidup,” ucap Ikhwan.

Baca Juga: Deteksi BMKG: Asap Karhutla Sampai Jakarta, Masih di Atmosfer Pulau Jawa

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr. Icang Sarrazin menambahkan, pengendalian hipertensi dan diabetes juga berperan dalam upaya pencegahan penyakit jantung. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mendeteksi faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi.

“Upaya pencegahan tersebut salah satunya dilakukan melalui program Ayo Kawan Utamakan Aku Cerdik,” ujarnya. Cerdik merupakan singkatan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.

Editor : Fajar Andre Setiawan
RSUD Karsa Husada kota batu kesehatan jantung