BATU, RADAR BATU - Diabetes melitus (DM) tidak dapat disimpulkan muncul hanya karena seseorang mengonsumsi makanan tertentu dalam satu kesempatan.
Penyakit ini dipengaruhi berbagai faktor, sehingga pencegahan perlu dilakukan melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Baca Juga: 2 Tahun Turun, Jumlah Penderita Diabetes Naik Lagi
Dokter Fungsional Puskesmas Batu dr. Emy Rosyidah mengatakan, diabetes banyak ditemukan dalam pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di masyarakat. Salah satu pemeriksaan digelar di lingkungan Kantor Desa Oro-Oro Ombo.
“Penyebab diabetes tidak bisa ditentukan dari satu faktor. Misalnya, hanya karena hari ini salah makan,” ujarnya.
Baca Juga: HUT ke-25 Kota Batu, Nurochman Dorong Puluhan Event Berdampak bagi UMKM dan Lingkungan
Menurut Emy, faktor yang berpengaruh antara lain keturunan atau genetik, pola makan, serta kebiasaan berolahraga. Karena itu, promosi kesehatan perlu mendorong masyarakat membangun kebiasaan sehat secara konsisten.
Salah satu pendekatan yang digunakan ialah program Aku Cerdik dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Baca Juga: 4 Film Indonesia yang Sedang Tayang di XXI Malang Ini Siap untuk Menemani Kamu di Akhir Pekan
Edukasi mencakup pola makan sehat, aktivitas fisik, berhenti merokok, kepatuhan minum obat, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr. Icang Sarrazin mengatakan, pengendalian diabetes juga dilakukan melalui deteksi dini, penegakan diagnosis, pengobatan, pendampingan pasien, serta pemantauan kondisi kesehatan.
Baca Juga: Emisi Karbon Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, Kenali Juga Bahaya Gas CO si “Silent Killer”
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan di puskesmas, posyandu, klinik, maupun melalui program CKG. Pemeriksaan kadar gula darah membantu tenaga kesehatan menilai kondisi pasien dan menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan.
Secara medis, diabetes tipe 1 berkaitan dengan kondisi ketika tubuh sangat sedikit atau tidak memproduksi insulin. Sementara itu, diabetes tipe 2 berkaitan dengan gangguan kerja insulin dan dapat dipengaruhi faktor genetik serta berbagai faktor gaya hidup.
Baca Juga: Peta NASA Tunjukkan Langit Indonesia Memerah karena Gas CO, Apakah Udara yang Kita Hirup Berbahaya?
Hasil pemeriksaan gula darah harus ditafsirkan sesuai jenis tes dan kondisi pasien. Sebagai contoh, kadar gula darah puasa 126 miligram per desiliter (mg/dL) atau lebih merupakan salah satu kriteria diabetes. Diagnosis tetap perlu ditegakkan tenaga medis berdasarkan pemeriksaan yang sesuai.
Bagi warga yang telah didiagnosis diabetes, pengendalian kadar gula darah harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pengobatan sesuai resep dan pemeriksaan rutin. Menghentikan atau mengubah dosis obat secara mandiri berisiko mengganggu pengendalian penyakit.
Baca Juga: Syahrini Kembali ke Dunia Musik, Gelar Konser Aku Kembali dengan Tiket Paling Mahal Seharga 35 Juta
Pentingnya deteksi dini juga tercermin dari data Dinkes Kota Batu. Jumlah penderita diabetes yang tercatat pada 2026 mencapai 3.215 orang, meningkat dibandingkan 2.163 orang pada 2025.
Hingga triwulan III, sebanyak 2.913 orang telah mendapatkan penanganan. Pemeriksaan rutin, edukasi, dan pendampingan diharapkan membantu masyarakat mengenali faktor risiko lebih awal serta mencegah komplikasi diabetes.
Editor : Fajar Andre Setiawan