BATU, RADAR BATU - Jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Kota Batu kembali meningkat tahun ini. Padahal dua tahun berturut-turut sebelumnya, jumlah penderitanya menurun. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat 3.215 penderita tahun ini. Angkanya naik 48,63 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 2.163 orang.
Hingga triwulan III, sebanyak 2.913 orang telah mendapat penanganan melalui program pengendalian diabetes. Data Dinkes menunjukkan, jumlah penderita diabetes pada 2023 mencapai 4.203 orang. Angkanya turun menjadi 2.355 orang pada 2024. Lalu, kembali menurun menjadi 2.163 orang pada 2025.
Baca Juga: 5 Hari Lagi, Ini Jadwal Jakarta Film Week 2026 Day 1
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr. Icang Sarrazin mengatakan, penanganan diabetes dilakukan secara berkelanjutan. Di antaranya melalui deteksi dini, penegakan diagnosis, pengobatan, edukasi perubahan perilaku, pendampingan pasien, dan pemantauan kondisi kesehatan.
“Capaian setiap tahun sudah 100 persen. Tahun ini, hingga triwulan ketiga mencapai 90,60 persen atau 2.913 orang,” ujarnya kemarin (15/10). Menurut Icang, penanganan diabetes juga dilakukan bersamaan dengan pengendalian hipertensi. Hal itu dilakukan melalui penguatan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM).
Baca Juga: Benarkah Laporan Karhutla ke Presiden Hanya 639 Hektare? Chanee Kalaweit Protes, Ini Penjelasan BNPB
Pendekatannya meliputi pemeriksaan kesehatan, edukasi pola hidup sehat, kepatuhan menjalani pengobatan, dan pemantauan kondisi pasien. Salah satu upaya yang dijalankan ialah program “Aku Cerdik”. Pada 2025, program tersebut diperkuat melalui edukasi, pendampingan, peningkatan kapasitas pelaksana, serta jejaring pelayanan kesehatan.
Materi edukasi mencakup pola makan sehat, aktivitas fisik, berhenti merokok, kepatuhan minum obat, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pada 2026, program Aku Cerdik diperluas dari Kelurahan Sisir ke Kelurahan Temas melalui pendekatan RT Sehat.
Baca Juga: Emisi Karbon Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, Kenali Juga Bahaya Gas CO si “Silent Killer”
Sebelumnya, sosialisasi dan skrining hipertensi serta diabetes melitus juga digelar di Kelurahan Temas pada 4 Juni 2025. Sekitar 170 warga mengikuti pemeriksaan untuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular.
Upaya deteksi dini penting karena diabetes dapat meningkatkan risiko komplikasi. DI antaranya penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. Pemeriksaan berkala juga membantu menemukan gangguan kadar gula darah sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
Baca Juga: Peta NASA Tunjukkan Langit Indonesia Memerah karena Gas CO, Apakah Udara yang Kita Hirup Berbahaya?
Secara medis, diabetes melitus terbagi menjadi beberapa tipe. Yang paling umum yakni tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 berkaitan dengan kondisi ketika tubuh sangat sedikit atau tidak memproduksi insulin. Sementara,diabetes tipe 2 berkaitan dengan gangguan kerja insulin dan dapat dipengaruhi faktor genetik, berat badan, serta pola hidup.
Pemeriksaan kadar gula darah menjadi salah satu cara untuk membantu menegakkan diagnosis. Kadar gula darah puasa 100-125 miligram per desiliter (mg/dL) menunjukkan gangguan gula darah puasa atau kondisi pradiabetes. Sedangkan, kadar 126 mg/dL atau lebih memenuhi salah satu kriteria diabetes.
Baca Juga: Ada Pengabdi Setan 2, Ini 3 Film Indonesia Bergenre Horor Terlaris Sepanjang Masa
Pada pemeriksaan gula darah sewaktu, kadar 200 mg/dL atau lebih disertai gejala klasik juga menjadi kriteria diagnosis. Penetapan diagnosis tetap harus dilakukan tenaga medis berdasarkan pemeriksaan yang sesuai.
Untuk menekan risiko diabetes, masyarakat perlu menerapkan pola makan seimbang, membatasi konsumsi gula berlebih, menjaga berat badan, dan rutin beraktivitas fisik. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu.
Baca Juga: Syahrini Kembali ke Dunia Musik, Gelar Konser Aku Kembali dengan Tiket Paling Mahal Seharga 35 Juta
Bagi warga yang telah didiagnosis diabetes, pengendalian kadar gula darah perlu dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pengobatan sesuai resep dan pemeriksaan rutin. Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan dapat dilakukan baik melalui puskesmas, posyandu, klinik, maupun program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui deteksi dini, edukasi, dan pendampingan pasien, Dinkes Kota Batu berharap pengendalian diabetes dapat berjalan lebih optimal sekaligus menekan risiko komplikasi di masyarakat.
Baca Juga: 2 Produk Olahan Buah Kota Batu yang Tembus Pasar Luar Negeri, Ada Keripik hingga Cuka
Dokter Fungsional Puskesmas Batu dr Emy Rosyidah mengatakan, diabetes banyak ditemukan saat perlaksanaan CKG di masyarakat. Salah satunya yang digelar di lingkungan Kantor Desa Oro-Oro Ombo beberapa waktu lalu. “Penyebab diabetes tidak bisa ditentukan dari satu faktor. Misalnya, hanya karena hari ini salah makan,” ujarnya.
Menurut Emy, ada multifaktor yang bisa memicu diabetes. Mulai dari keturunan atau genetik hingga frekuensi olahraga. Cara pengendaliannya yakni dengan menerapkan pola hidup sehat. Seperti promosi kesehatan (promkes) Aku Cerdik dari Kemenkes RI.
Editor : Fajar Andre Setiawan