BATU, RADAR BATU - Sebanyak 10.106 warga Kota Batu tercatat mengidap hipertensi hingga September 2026. Jumlah tersebut mendekati total kasus sepanjang 2025 yang mencapai 12.852 orang. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia dewasa di atas 25 tahun.
Tingginya kasus hipertensi menjadi perhatian dalam pengendalian penyakit tidak menular (PTM). Sebab, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Mulai stroke, penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga kematian dini.
Baca Juga: Sambut HUT ke-25 Kota Batu, Wali Kota dan Wawali Ziarah ke Makam Mbah Batu dan Mbah Patok
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr. Icang Sarrazin mengatakan, pencegahan perlu dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah berkala. Selain itu, juga melalui edukasi pola hidup sehat dan penguatan peran keluarga dan kader kesehatan.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan di puskesmas, posyandu, klinik, maupun program Cek Kesehatan Gratis (CKG). “Salah satu upaya pencegahan yang perlu diperkuat adalah membiasakan pola makan rendah garam,” ujarnya.
Baca Juga: HUT ke-25 Kota Batu, Selecta Diskon 30 Persen dan Jatim Park 50 Persen
Konsumsi garam bagi orang dewasa dianjurkan tidak lebih dari lima gram per hari atau sekitar satu sendok the. Termasuk garam yang terkandung dalam seluruh makanan. Warga juga perlu membatasi makanan tinggi natrium. Misalnya, ikan asin, mi instan, makanan olahan, dan saus tertentu.
Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu turut membantu mengendalikan tekanan darah. Upaya tersebut perlu diimbangi dengan menjaga berat badan ideal, menghindari rokok dan paparan asap rokok, mencukupi waktu tidur, serta mengelola stres.
Baca Juga: Ledakan Pasar Cimanggis Tangsel: 2 Orang Tewas, Polisi Pastikan Bukan Bom
Pemeriksaan tekanan darah juga penting dilakukan meskipun seseorang tidak merasakan keluhan. Sebab, hipertensi kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga berisiko terlambat diketahui. “Dengan pemeriksaan rutin, tekanan darah yang tinggi dapat terdeteksi lebih dini dan segera ditangani,” imbuh Icang.
Bagi warga yang telah didiagnosis hipertensi, pengendalian harus dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui konsumsi obat sesuai resep tenaga kesehatan dan kontrol rutin. Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengurangi dosis obat secara mandiri meskipun merasa sehat.
Baca Juga: Nobody Loves Kay Ditayangkan Kembali di Sejumlah Lokasi CGV Indonesia
Dokter Fungsional Puskesmas Batu dr Emy Rosyidah menambahkan, hipertensi menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan dalam pelaksanaan CKG. Faktor pemicunya beragam. Di antaranya pola makan, tingkat stres, hingga kebiasaan hidup yang tidak sehat.
“Upaya pengendaliannya melalui inovasi CERDIK dari Kementerian Kesehatan RI,” kata Emy.
Inovasi CERDIK merupakan singkatan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. Upaya pengendalian juga diperkuat melalui edukasi, pendampingan, peningkatan kapasitas pelaksana, serta jejaring pelayanan kesehatan.
Baca Juga: Kenapa Cuaca Terasa Makin Panas Akhir-Akhir Ini? Ini Kata BMKG
Materi edukasi mencakup pola makan sehat, pengurangan konsumsi garam, aktivitas fisik, berhenti merokok, kepatuhan minum obat, dan pemeriksaan tekanan darah berkala. Pada 4 Juni 2025, sosialisasi dan skrining hipertensi serta diabetes melitus digelar di Kelurahan Temas. Sekitar 170 warga menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi faktor risiko PTM.
Memasuki 2026, program CERDIK diperluas dari Kelurahan Sisir ke Kelurahan Temas melalui pendekatan RT Sehat. Penanganan diprioritaskan bagi warga yang memiliki faktor risiko hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Penguatan deteksi dini, edukasi, dan pendampingan diharapkan dapat menekan risiko komplikasi.
Editor : Fajar Andre Setiawan