Dua Anak Kota Batu Terjangkit Pertusis

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 01:39 WIB
Imunisasi MR penting dilakukan pada anak guna cegak penularan campak. (Freepik)
Imunisasi MR penting dilakukan pada anak guna cegak penularan campak. (Freepik)

BATU, RADAR BATU - Dua anak di Kota Batu terkonfirmasi pertusis sepanjang Januari-Juni 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu langsung melakukan pelacakan kontak dan memberikan profilaksis selama tujuh hari kepada orang yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Pemegang Program Imunisasi Dinkes Kota Batu Adi Koesaini mengatakan penanganan dilakukan untuk mencegah penularan lebih luas. Selain kontak erat, kondisi pasien juga terus dipantau.

“Ada dua anak terkena pertusis dan tiga anak terkena campak,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Bumiaji dr Kartini Kristalina mengatakan pertusis merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Bordetella pertussis. Penularannya terjadi melalui percikan saluran pernapasan ketika penderita batuk atau bersin.

Baca Juga: Lima Anak Kota Batu Terjangkit PD3I - Radar Batu

Pertusis dikenal sebagai batuk rejan atau “batuk 100 hari”. Pada tahap awal, gejalanya dapat menyerupai flu biasa. Di antaranya pilek, bersin, demam ringan, dan batuk kering.

Seiring perkembangan penyakit, batuk dapat berubah menjadi serangan berat. Kondisi tersebut bahkan dapat mengganggu pernapasan.

Pertusis dapat ditangani dengan antibiotik. Namun, pencegahan utamanya tetap melalui imunisasi DPT. Anak yang telah sembuh juga perlu memastikan imunisasinya tetap lengkap sesuai jadwal.

Baca Juga: Tiga Anak Kota Batu Terkena Campak - Radar Batu

Menurut Adi, temuan pertusis menjadi bagian dari lima kasus PD3I yang ditemukan di Kota Batu hingga pertengahan 2026. Selain dua pertusis, terdapat tiga kasus campak.

Dinkes terus memperkuat imunisasi untuk menekan risiko munculnya penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tersebut. Pelacakan kontak juga dilakukan setiap kali ditemukan kasus.

Langkah tersebut penting karena anak yang belum mendapat imunisasi lengkap memiliki risiko lebih besar terpapar PD3I. Setiap sasaran yang terlewat berpotensi menjadi celah munculnya kasus baru.

Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan setelah kasus ditemukan. Orang tua juga didorong memastikan anak memperoleh imunisasi sesuai jadwal. Dengan begitu, perlindungan terhadap pertusis dan penyakit lain dapat lebih optimal. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
kesehatan anak pertusis Penularan dinas kesehatan dinkes